Zikir dan Psikosomatis saat Pandemi Covid-19

Zikir dan Psikosomatis saat Pandemi Covid-19

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Pandemi Covid-19 benar mempengaruhi gaya hidup manusia yang sebelumnya normal menjadi terpecah mengacaukan, serta berefek pada spiritualitas pribadi. Zikir adalah salah satu obat penting untuk meningkatkan kembali melemahnya spiritualitas.

Dipandang dari sudut kesehatan tali jiwa, doa dan zikir mengandung unsur psikoterapeutik yang mendalam. Terapi psikoreligius tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan psikoterapi psikiatrik karena dalam psikoterapeutik yang mengandung kekuatan spiritual ataupun kerohanian yang membangkitkan rasa percaya diri dan rasa optimisme kepada manusia yang mengalami kecemasan moral.

Lengah satu metode untuk mengurangi psikosomatis pada diri manusia akibat pandemi Covid-19 ini yaitu dengan berzikir. Zikir sebagai salah satu cara buat mendekatkan diri pada Allah SWT yang merupakan bentuk dari bagian spiritual dan religius. Zikir mampu membantu individu membentuk keyakinan kalau setiap stresor akan dapat dihadapi dengan baik dengan bantuan Allah SWT.

Jadi, zikir adalah perbuatan dengan terdapat unsur spiritual dan religius sebagai bentuk mengingat Allah pada rangka mendekatkan diri kepadaNya. Mengenai relaksasi zikir merupakan prosedur tertentu yang dibuat untuk melatih pribadi agar mampu mencapai kondisi rileks tubuh dengan mengingat Allah.  

Zikir yang biasanya dilakukan oleh pengikut tarekat yang memang dijadikan sebagai salah satu perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan biasanya dilakukan di masjid, ataupun majlis, menjadi lebih dirasakan manfaatnya dan bisa dilakukan oleh siapa pun, sekalipun oleh orang-orang yang tidak menganut tarekat.

Pengaplikasian zikir bisa menjadi media terapi untuk memulihkan berbagai macam penyakit, baik tersebut penyakit fisik, maupun psikis. Zikir juga dapat menurunkan gejala psikosomatias akibat stres dan efek minus akibat pandemi Covid-19 yaitu secara cara mendekatkan diri pada Allah SWT.

Tidak hanya untuk penanganan tekanan, psikoterapeutik dengan terapi zikir serupa memiliki pengaruh yang signifikan di dalam mengurangi kecemasan yang berlebihan, zikir tasbih yang diberikan berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan simtom kebingungan pada gangguan fobia spesifik khususnya saat masa pandemi Covid-19 tersebut.

Zikir dapat dijadikan sebuah metode pilihan yang baik untuk mendekatkan muncul kepada Allah SWT dan menyampaikan ketenangan jiwa bagi siapapun yang sungguh-sungguh melakukannya. Sehingga, apabila zikir dijadikan sebuah metode alternatif di dalam menangani sebuah permasalahan atau gangguan-gangguan jiwa, seperti kecemasan, stres, kemunduran, maupun lainnya tentu hal ini merupakan jawaban terbaik. Zikir sebaiknya dilakukan dengan khusuk dan ikhlas, agar maknanya meresap kedalam rohani atau hati.  

Mengingat fenomena pandemi Covid-19 ini, sebagai dari umat Islam banyak yang tergoda  dengan upaya penyebaran kepanikan dan ketakutan yang berlebihan pada diri pribadi masing-masing. Hal ini sungguh berpengaruh buruk pada kesehatan mental serta psikis manusia yang dapat menjadikan gejala psikosomatis yang berlebihan. Ketika seperti ini pasti dimanfaatkan sebab mereka agar kita salah kelakuan sampai-sampai menuhankan virus Covid-19 karena ketakutan yang dialami manusia itu sendiri secara berlebihan tentang adanya pandemi virus Covid-19 ini.

Setiap keadaan yang diingat oleh manusia merupakan virus Covid-19 disertai ketakutan-ketakutan dengan tidak perlu. Jika dibiarkan sugesti yang berlebihan tentang adanya virus Covid-19   ini “masuk” ke dalam hati, pikiran bahkan daerah bawah sadar kita, makan mau dapat menganggu kesehatan mental maupun psikis kita sendiri. (*)

***

*)Oleh:   Yuanita Anggun Candra Yudha, Mahasiswa Universitas Islam Negri Sunan Ampel Surabaya.

*)  Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung berat redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Kopi TIMES atau ruangan opini di TIMES Indonesia terkuak untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat tumbuh singkat beserta Foto diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tak menayangkan opini yang dikirim semasa tidak sesuai dengan kaidah & filosofi TIMES Indonesia.