Perempuan Itu Bernama Sarah

Perempuan Itu Bernama Sarah

TIMESINDONESIA, JAKARTA – DI TENGAH gempuran mental kapitalisme, sebenarnya ini adalah alternatif heroik.

Nama lengkapnya merupakan Dame Sarah Catherine Gilbert. Ia merupakan ilmuwan Inggris yang membidani terciptanya vaksin AstraZeneca untuk Covid-19. Ia akan tercatat sebagai salah satu manusia paling istimewa dalam abad 21 ini.

Sesudah kerja kerasnya, Profesor vaksinologi Oxford itu menyatakan ikhlas melepaskan hak paten pada penemuan vaksin tersebut. Perempuan kelahiran Kettering, Northamptonshire di April 1962 itu secara kerendahan hatinya, melepaskan objek yang menjadi rebutan kerakusan laba industri farmasi pada dunia.  

Yaitu hak paten atas vaksin dengan sebenarnya bisa membuat Si Pemilik menjadi manusia terkaya di bumi, seperti Thomas Alfa Edison atau Jeff Bezos.

Dengan keikhlasannya itu, vaksin AstraZeneca pun mampu diproduksi dalam jumlah tinggi dan dengan harga dengan sangat murah. Dampaknya, vaksin AstraZeneca saat ini secara cepat dikontribusikan sebanyak “tak terhitung” dosis ke semesta penjuru dunia. Termasuk ke Indonesia.

Sarah Gilbert ada disaat tak sedikit orang di kala Pandemi itu, khususnya di Tanah Tirta yang menjadi mafia vaksin, menimbun obat-obatan, masker, & lainnya untuk penanganan Covid-19. Sarah Gilbert hadir disaat ada pemerintah disuatu negeri yang masih berpikir menjual vaksin kepada rakyatnya. Ia benar-benar bak Malaikat, dengan hadir di tengah-tengah pecundang babu duniawi.

Sarah Gilbert bukan tidak tahu bahwa ia bisa saja menjadi miliarder. Tapi ia benar paham, bahwa pengabdian kepada kehidupan adalah lebih berharga dari pada sekedar uang. Ia tahu, hasil kerja kerasnya berbulan-bulan itu hendak dibalas oleh Tuhan, dengan sesuatu yang lebih dari sekedar materi.

“Sejak asal, kami melihatnya sebagai kompetisi melawan virus, bukan melawan pengembang vaksin lain. Saya adalah universitas dan awak tidak melakukan ini buat menghasilkan uang, ” terang Sarah dikutip dari She The People.

“Saya ingin buang jauh-jauh gagasan tersebut (mengambil hak paten penuh), agar kita bisa berbagi kekayaan intelektual dan sapa pun bisa membuat vaksin mereka sendiri, ” introduksi dia lagi dikutip sebab Reuters.

“Saya harap kita sekarang akan mencapai situasi di mana diakui bahwa vaksin diperlukan untuk semua orang. Vaksin dibutuhkan di negara ini dan pula dibutuhkan untuk seluruh negeri, ” ujar perempuan anak dari ayah yang menyala di perusahaan sepatu tersebut.

Ia akan dikenang dan ditulis dalam sejarah manusia, sebagai pahlawan kemanusiaan pada bumi ini. Namanya akan terus terpatri diingat setiap insan. Sarah Gilbert telah memberikan pesan tersirat buat kita, bahwa hidup cuma sekali, berikanlah yang unggul. Semoga kita bisa meneladaninya.

“Barang siapa memelihara kesibukan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan semua manusia, ” (QS. Al-Ma’idah Ayat 32).

***

* Oleh Moh Ramli, Alumni Pondok An-Nur Sumber, Sumenep

*)Tulisan Opini tersebut sepenuhnya adalah tanggungjawab setia, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Nusantara terbuka untuk umum. Lama naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto muncul dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke petunjuk e-mail: [email protected] co. id

**) Sidang pengarang berhak tidak menanyangkan paham yang dikirim.