Pemkab Sragen Perhatikan Kesehatan Mental Anak obat Covid-19

Pemkab Sragen Perhatikan Kesehatan Mental Anak obat Covid-19

TIMESINDONESIA, SRAGEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen berusaha menjaga kesehatan mental pasien positif Covid-19 dengan berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG). Sejumlah kegiatan dilakukan untuk mengusir rasa bosan selama menjalani isolasi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Technopark Sragen.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen dr. Hargiyanto membaca sejumlah 13 orang di antaranya yang dirawat di RSD Technopark Sragen berstatus OTG. Pihaknya membaca RSD Technopark difungsikan sebagai tempat isolasi mandiri di bawah perlindungan Pemkab Sragen.

”Di situ untuk OTG, ada 13 orang. Mereka minus gejala. Sebenarnya bisa mandiri di rumah. Tapi untuk Sragen tidak mungkin, ” terang dr. Hargiyanto.

Sebelumnya, kata dia, Pemkab Sragen membawa pengawasan isolasi di Gedung Sasaran Manggala Sukowati (SMS). Lantaran menyelaraskan kondisi, dan sempat banyak penurunan kasus, maka RSD difungsikan jadi ruang isolasi.

Pihaknya mempertimbangkan fasilitas dalam Technopark sudah cukup lengkap dibanding di SMS. Selain itu sendi sakit seperti di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro dan dr. Soeratno sudah menyediakan ruang khusus buat pasien positif Covid-19 yang perlu perawatan.

”Ruang isolasi di Soehadi tersedia 34 dan 15 di Soeratno, jadi 49 ruang perawatan, ” tambahnya.    

Dengan menyediakan 24 kamar dan terisi 13 anak obat, imbuhnya, dinilai lebih aman. Sebab kamar tiap pasien OTG terisolasi dengan yang lain. Sehingga mengurangi resiko interaksi.

”Isolasi di sana ada pihak keamanan, cleaning service serta petugas kesehatan yang terus meneroka keluhan dan kita buat persekutuan. Di technopark ada satu anak obat perempuan, setiap hari suaminya selalu ngecek telpon, ” ujarnya.

Menurutnya, banyak kegiatan untuk mengusir rasa bosan selama menjalani isolasi para OTG. Yakni dengan melakukan banyak kegiatan sesuai minat. Seperti memasak, mencangkul dan berkebun, olahraga bahkan menghasut di kolam technopark. Langkah itu untuk menjaga kesehatan mental mereka agar tidak jenuh.

”Kami beri metode masak, bibit ikan dan cangkul agar tidak bosan. Sedangkan vitamin dan obat juga kami berikan. Bahkan ada bantuan juga dibanding bupati, ” katanya.

Diutarakannya, perlakuan berbeda untuk pasien OTG dari cluster Gowa. Sebelumnya banyak mengisi waktu selama isolasi dengan mengaji. Tetapi saat ini lebih beragam kegiatan.    

Hargiyanto menegaskan untuk swab test lanjutan bagi OTG, mengencangkan waktu swab test yakni 14 hari. Jika hasil negatif swab ketiga bisa dilakukan 2 hari setelahnya untuk memastikan kondisinya benar-benar sembuh. Semua pasien OTG itu juga diawasi langsung dari Pemkab Sragen. (*)