Papan iklan Capres Sebagai Demagogi Politik

Papan iklan Capres Sebagai Demagogi Politik

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pipres 2024 masih lulus jauh. Namun sejumlah politisi sudah mulai mengisi ruang-ruang publik  seperti pemasangan baliho berukuran jumbo di sudut-sudut kota di Indonesia. Tanda ketua-ketua partai banyak menghiasi seperti Puan Maharani, Airlangga Hartatrto, Muhaimin Iskandar, Agus Harimurti Yudhoyono.

Sebelumnya, sebagian dari mereka juga giat mengumbar hasil survey ke publik untuk menjajaki suara publik. Dari sekian pimpinan partai politik, nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo cukup mengejutkan publik. Disusul oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Jauhnya membentangkan waktu dan kondisi bangsa yang masih berjuang melawan pandemic covid-19, membuat metode para politisi itu memotong berbagai respon. Ulama semacam KH. Mustofa Bisri, dengan juga pegiat media baik, ikut memporsting gambar-gambar baliho bernuansa satir karena gambar para politisi ini, disandingkan dengan gambar-gambar bagaimana pandemi ini sedang berlangsung.

Beribu-ribu follower Gus Mus menenggelamkan komentar atas potingan itu. Postingan Gus Mus yang bukan buzzer rupiah, telah membangunkan berbagai opini kelompok dengan berbagai macam leter followernya.

Budayawan nyentrik Sujewo Tejo, lebih unik sedang mengomentari baliho itu. Ia mendukung tentara bertindak untuk menurunkan baliho tersebut supaya bahannya segera bisa dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima.

Lawan-lawan politik ikut menyerobot tindakan pimpinan Parpol itu. Mereka punya bahan buat memojokkan lawannya, seakan-akan modus itu tidak etis, melukai hati nurani rakyat dan menghambur-hamburkan uang.

Perang papan iklan, dalam pandangan mereka kira-kira masig dianggap efektif buat mengangkat popularitas. Meskipun persuasi digital dianggap lebih efektif, namun mereka akan terus menggunakan berbagai cara biar memori otak publik bisa merekam hingga ke lembah otak sadarnya.

Namun langlah itu, justru dibully sebab masyarakat. Lebih-lebih masyarakat negeri maya. Masyarakat butuh kehadiran mereka secara nyata, bukan menabur gambar-gambar mati yang efeknya tidak dirasakan dengan langsung oleh masyarakat buat mengatasi terpuruknya ekonomi asosiasi karena pandemi.

Berbagai macam opini publik itulah yang sebetulnya mereka kehendaki. Kalau mengacu kepada teori metode kampanye komunikasi, perang papan iklan itu baru masuk pada tahapan pesan-pesan kesadaran. Perintah kesadaran ini, menurut Charles Atkin dan Charles T. Salmon, diartikan sebagai langkah untuk memberi tahu kepada publik tentang apa dengan harus dilakukan, siapa dengan harus melakukannya, dan memberikan petunjuk-petunjuk tentang kapan & dimana hal itu kudu dilakukan.

Kampanye komunikasi macam ini, sifatnya dianggap ringan tetapi mampu merangsang terbuka agar mencari isi dengan lebih kaya dari sumber-sumber daya informasi yang lama lebar, seperti situs-situs internet, buku dan figure opinion . Peran kunci di pesan-pesan kesadaran ini, ialah membangkitkan minat atau afeksi serta mendorong pencarian data lebih lanjut mengenai manuver tersebut.

Setelah tahapan pesan-pesan kesadaran, beranjak kepada mekanisme kampanye komunikasi kedua yakni pesan-pesan instruksi. Di periode ini, hasil pengetahuan dengan diperoleh dalam pesan kesadaran, mengarah kepada tindak lanjut langkah strategis beikutnya. Jika intensitasnya perlu ditingkatkan, oleh sebab itu kampanye komunikasi akan semakin ditekankan guna mendapatkan penuh dukungan. Kuantitas penyebaran usaha akan terus ditingkatkan. Makin, pesan-pesan akan dibuat lebih mencolok.

Jika kampanye baru yang disampaikan masih penting ambigu, maka di tahap pesan instruksi ini sudah lebih terarah kepada arah jangka panjangnya. Misalnya, Capres 2024.

Selanjutnya, mekanisme usaha komunikasi akan berada dalam tahap ketika yakni persuasif. Di tahap ini, intensitas kampanye terus ditingkatkan. Segala bentuk tindakan yang dilarang, akan dihindari oleh mereka. Bahkan, memunculkan perubahan sikap yang fundamental. Menguatkan perilaku positif. Maka tidak aneh jika pimpinan parpol mau semakin membangun kedekatan dengan politisi lainnya, yang mampu mendongkrak popularitas dan elektabilitas jangka panjang.

Mereka dengan awalnya tampak oposisi dan berbeda pandangan politik, bakal menjadi seirama dan silih memuji dan saling menghormati.

Hakikatnya, semua bentuk hubungan yang dibangun bertujuan untuk mendapatkan pengaruh melalui rekayasa. Rekayasa ini dimaksudkan buat membangun citra riil seperti tampak riil. Rekayasa sering menyusup pada celah-celah kurun nilai, gagasan dan pendapat. Penelusupan ini, ingin mengaburkan tigal hal tersebut. Sehingga, nilai, gagasan dan pendapat, tidak dibedakan dan direkayasa sedemikian rupa. Publik akan menganggapnya sebagai sebuah data.

Reakayasa salah satu kesibukan menghilangkan kebebasan publik. Muslihat ini harus tidak diketahui publik. Dengan demikian, rekayasa masuk kepada melanggar pikiran seseorang untuk meletakkan opini atau membangkitkan perilaku minus diketahui publik bahwa tersedia pelanggaran. Keberhasilannya terletak pada penyembunyian maksud sesungguhnya.

Secara demikian, rekayasa mengandaikan pada kebohongan yang terorganisir, peniadaan kebebasan publik dan tersedianya alat untuk mengalahkan resistensi publik.

Dalam konteks ini, kampanye politik penuh secara kemunafikan dan insinuasi. Politisi cenderung akan bersembunyi dalam balik kalimat-kalimat kabur, kata-kata yang tidak pasti. Pencitraan biasanya dibuat sesuai dengan aturan demagogi klasik, yakni menyesukan diri dengan apa yang diharapkan atau diinginkan publik. Maka, realitas akan dikesampingkan untuk mengacaukan perasaan dan pikiran publik.

Sebab sebab itu, tidak dapat disalahkan jika opini teliti dibangun publik atas aksi baliho pimpinan partai politik itu, sebagai sikap niretis. Maka, kita perlu waspada atas tipu daya politisi. Kalimat yang tepat berasaskan tindakan itu, seperti dianggap Philipe Breton: “Merayu berguna mati sebagai realitas untuk menghasilkan tipu daya, “. Tindakan semacam ini, semakin berkembang seiring dengan semakin canggihnya saran komunikasi.

*) Oleh: Taufiqur Rahman Khafi, Pengajar Koneksi di Fakultas Ushuluddin serta Dakwah IAIN Madura

*)  Tulisan Pemikiran ini sepenuhnya adalah kepalang jawab penulis, tidak menjelma bagian tanggungan redaksi  timesindonesia. co. id

***

**)   Kopi TIMES atau  rubrik paham di TIMES Indonesia  terkuak untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 aksara atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup kecil beserta Foto diri dan nomor telepon yang mampu dihubungi.

**)   Naskah dikirim ke alamat e-mail:   [email protected] co. id

**)  Sidang pengarang berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tak sesuai dengan kaidah serta filosofi TIMES Indonesia.