Optimisme Pendidikan di Tengah Pandemi

Optimisme Pendidikan di Tengah Pandemi

TIMESINDONESIA, MALANG – “Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya sanggup bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, serta bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya”. Itulah kalimat yang pernah diucapkan Ki Hadjar Dewantara yang seakan mengajak kita untuk terus bermanfaat. Kebermanfaatan itulah yang sebernarnya merupakan rancangan dasar dalam pendidikan.  

Di tengah situasi pandemi, publik melalui media massa maupun berbagai platform media sosial diperlihatkan tentang mengecap empati kepada orang asing. Sebab, pendemi telah berdampak hampir kepada seluruh sektor, seperti kesehatan, ekonomi, mematok pendidikan. Di situasi pelik inilah kualitas seseorang sungguh-sungguh teruji. Bahkan, jika dipandang secara keseluruhan, pandemi selalu menjadi barometer karakter suatu bangsa.  

Sektor pelajaran telah beradaptasi dengan status pandemi dengan cara melayani pembelajaran daring. Namun begitu, UNESCO melaporkan sekitar 1, 6 miliar peserta didik dan 63 juta kiai di seluruh dunia terdampak dari penutupan sekolah di dalam Oktober 2020 lalu. Tengah itu, laporan UNESCO pada April 2021 dalam buram memperingati satu tahun pandemi mengungkapkan bahwa 124 juta anak menurun kemampuan membacanya selama pandemi covid-19.  

Pahlawan Pendidikan

Situasi pendidikan saat pandemi di Indonesia lebih kompleks. Indonesia yang merupakan negeri kepulauan memiliki kondisi sekolah yang berbeda-beda. Padahal, situasi pandemi menuntut pembelajaran tatap muka diganti dengan pembelajaran daring yang telah diberlakukan sejak pertengahan Maret 2020. Permasalahan pun bermunculan, kaya tidak adanya akses internet hingga siswa tidak mempunyai smartphone.

Dari permasalahan dengan bermunculan itulah, kini semua orang dapat menjadi pahlawan pendidikan. Seorang kakak yang membantu mengajari adiknya. Masyarakat setempat menyumbangkan wifi gratis untuk digunakan dalam kegiatan belajar online. Orang tua menyerahkan perhatikan penuh terhadap metode belajar mengajar anaknya. Hingga seorang guru yang jujur datang ke rumah pengikut yang mengalami kesulitan membiasakan.

Adanya sinergi dari bermacam-macam pihak dalam mendukung jalannya pembelajaran daring merupakan data bahwa masih banyak orang yang berempati terhadap pendidikan di Indonesia. Hal itu turut membuktikan bahwa kejayaan pendidikan tidak cukup cuma diinisiasi oleh sekolah saja. Namun, perlu adanya dukungan berbagai macam pihak.  

Langkah Pendidikan ke Depan

Penguatan tumpuan prasarana dan peningkatan karakter guru merupakan dua hal yang seharusnya menjadi prioritas langkah pendidikan ke pendahuluan.

Pertama, penguatan sarana dan prasarana sekolah. Pandemi turut memotret kondisi sekolah di Indonesia. Berdasarkan data Penting Pendidikan per 2 Juni 2020, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan (Kemdikbud) melaporkan ada 8. 522 sekolah dengan belum teraliri listrik dan sebanyak 42. 159 sekolah yang belum terakses internet. Data tersebut seakan menjadi Pekerjaan Rumah (PR) tumbuh bagi pemerintah untuk menyelesaikannya. Pemerintah terkait tentu menetapkan memberikan perhatian khusus terhadap sekolah-sekolah tersebut.  

Ke depan sarana dan infrastruktur sekolah harus menjadi pokok utama pemerintah. Sebab, perkakas dan prasarana merupakan pembantu kegiatan belajar mengajar. Terlebih, pendidikan prapandemi, pandemi, serta pascapandemi (belum diketahui) pasti berbeda dan memiliki karakteristiknya masing-masing. Pemerataan sarana dan   prasarana sekolah sekaligus sebagai antisipasi jika terjadi hal dengan kondisi sebangun. Seperti pepatah populer mengatakan, “sedia payung sebelum hujan”.  

Kedua, meningkatkan karakter guru. Pandemi telah mendesak guru, siswa, dan karakter tua untuk berakselerasi menggunakan teknologi. Hal ini membuktikan bahwa semua orang bisa belajar selama memiliki target. Ketakutan sebelum pandemi akan tidak dapatnya beradaptasi secara teknologi baru pun kian memudar.

Pandemi telah menuntut guru-guru di Indonesia untuk kreatif dan berinovasi pada kelas yang tidak terpatok ruang. Momen baik itu seharusnya dapat dimanfaatkan dengan keberlanjutannya. Terlebih, pascapandemi, gaya pembelajaran daring rasanya pelik untuk pudar. Pemerintah terkait perlu memberikan pelatihan pada guru-guru cara mengelaborasikan jarang pembelajaran daring dan pembelaran tatap muka. Guru-guru perlu terus diasah kreativitas serta inovasinya sehingga dapat mendesain kelas yang menarik, menantang, dan menghadirkan pengalaman belajar bermakna bagi siswa.  

Pandemi covid-19 telah menilai sistem pendidikan di Nusantara secara menyeluruh. Berbagai temuan tentang pendidikan ini tidak akan berarti apa-apa asalkan tidak adanya respons sejak pemerintah dan pihak-pihak terpaut. Semangat untuk meningkatkan pelajaran pun harus terus digaungkan. Kita semua harus optimistis meningkatnya kualitas pendidikan dalam Indonesia pascapandemi. Karena sejatinya, seperti yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara bahwa kita semua berharap para pelajar di Indonesia dapat menjelma seseorang yang bemanfaat nantinya.  

***

*)Oleh: Wildan Pradistya Putra, Pendidik di Thursina International Islamic Boarding School (IIBS) Udi.

*)  Tulisan Opini tersebut sepenuhnya adalah tanggung berat penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah suntuk 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan cetakan telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Sidang pengarang berhak tidak menayangkan pendapat yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.