New Normal, Peluang Pesantren Menggerakkan Independensi dan Kekuatan Ekonomi Rakyat

New Normal, Peluang Pesantren Menggerakkan Independensi dan Kekuatan Ekonomi Rakyat

TIMESINDONESIA, JOMBANG – New normal bisa selalu dinilai oleh banyak orang sebagai sebuah kehancuran. Namun, bagi negeri santri dan pesantren, dalam setiap kehancuran selalu ada kebangkitan. Suatu harapan baru muncul di zaman era new normal.

Memang betul Covid-19 telah banyak menghentikan proses usaha UMKM berbasis pesantren yang mulai bertumbuh di Indonesia. Covid-19 apalagi berdampak pada dirumahkannya hampir segenap tenaga kerja dari masyarakat sekitar pesantren.

Namun, ada secercah harapan hidup. Dulu, banyak produk UMKM pesantren berhadapan langsung dengan produk-produk sungguh. Mulai dari tusuk gigi, pangkur, makanan ringan sampai tekstil. Pertama dalam soal harga. Tak bisa dibayangkan sebelumnya, mengapa harga tusuk gigi yang katanya impor dibanding China, bisa jauh lebih gampang dari produk tusuk gigi keluaran UMKM lokal.

Kini pasar kena shutdown oleh Covid-19. Gelombang mass product impor yang murah
  juga kena shutdown. Berhenti tatkala. Kemudian akan mulai lagi menuju sebuah pasar yang baru, pasar new normal.  

Penulis melihat, era shutdown inilah kesempatan sangat berharga bagi seluruh UMKM berbasis pesantren untuk mengemas identitas produk pondok sebagai kekuatan baru. Sebuah gaya ekonomi rakyat dalam menghadapi serangan ribuan produk luar negeri.

UMKM Pesantren harus memulai melakukan pendekatan dengan seluruh kalangan. Mulai dari negeri, universitas, pelaku UMKM sampai ormas untuk mengembangkan strategi bisnis segar yang mampu menggerakkan potensi lokal agar menjadi tuan rumah pada wilayahnya masing-masing.

Ini harus dilakukan secara cepat. Mulai sekarang. Dengan memanfaatkan momentum dan peluang shutdown mungkin pasar akibat Covid-19.

Penulis yang kebetulan aktif dalam salah satu kesibukan enterpreneur santri di
Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng (universitas berbasis pesantren) kini tengah mencoba mengembangkan sebuah protipe dan strategi usaha sebuah produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG) UMKM untuk menggelar kekuatan perekonomian rakyat.

Hal serupa kudu juga mulai dipikirkan juga sebab pesantren-pesantren lain yang concern secara kemandirian ekonomi berbasis pesantren.

Awut-awutan, apa yang harus dilakukan pesantren?

Menurut penulis, ini saatnya bagi pesantern untuk menemukan dan membikin identitas eksklusif produk UMKM rupanya. Ini langkah awal yang harus dilakukan pesantren sebagai pondasi penting saat memasuki masa new umum.

Sesudah proses identifikasi produk selesai, kerjakan kajian-kajian soal bagaimana mengembangkan strategi bisnis produk tersebut sebelum melakukan kegiatan produksi kembali di kala new normal.

Nama besar pesantren mampu dijadikan modal dan jaminan keluaran yang dihasilkan nanti untuk mampu dikenal cepat dan dikonsumsi bangsa.

Di proses identifikasi produk, banyak peristiwa bisa dieksplor pesantren. Salah satunya adalah soal produk halal. Produk UMKM pesantren berbasis produk halal juga bisa dikembangkan sebagai sebuah produk eksklusif yang dapat menelungkupkan peluang baru dalam new wajar.

Pasarnya pun mudah dibidik, yakni konsumen yang care dengan produk-produk legal dengan jaminan halal yang pasti. Produk buatan UMKM pesantrenlah yang mampu menjawab kebutuhan itu.

Tak harus produk halal saja. Banyak yang bisa jadi peluang UMKM pesantren di era new normal itu.

Kejayaan sebuah UMKM pesantren memanfaatkan jalan saat di saat new normal, akan jadi contoh bagi pesantern lain untuk berbuat yang serupa. Tercatat UMKM yang ada di sekeliling pesantren.

Seorang santri tak harus jadi dai, pemuka agama atau pendidik agama. Santri dan pesantren sudah saatnya berkontribusi besar juga dalam mewujudkan slogan “Cintailah produk Indonesia”.

Dan ini saatnya. New normal inilah saatnya bagi santri dan pesantren untuk menggerakkan kembali kemandirian ekonomi. Insya Tuhan.

***
 

*) Penulis: Sulung Rahmawan Wira Ghani, ST. MT, Ketua program studi Teknik Industri Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang; Pegiat desain keluaran industri untuk UMKM Jombang,   CEO Pring*godani @ kelolabambu. com

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

____________
**) Kopi TIMES ataupun rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter ataupun sekitar 600 kata. Sertakan tambo hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.