Musim Kemarau Tiba, Langit Nganjuk Bertabur Layang-Layang Gambreng

Musim Kemarau Tiba, Langit Nganjuk Bertabur Layang-Layang Gambreng

TIMESINDONESIA, NGANJUK – Memasuki musim kemarau, hamparan sawah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur hampir berubah menjadi lapangan. Kondisi ini dimanfaatkan banyak warga yang untuk bermain layang-layang gambreng pada sore hari.

Salah satunya di Desa Jegreg, Kecamatan Lengkong. Angin sore di yang lebih kencang membuat semua penghobi layangan bersuka cita. Tak heran mulai anak-anak hingga dewasa bermain layang-layang dengan berbagai macam ukuran. Salah satunya merupakan layang-layang Gambreng.

Sandi, pemuda Desa Jegreg mengatakan, permainan ini sudah ada sejak ia kecil. Hampir setiap sore setelah musim panen, langit di desanya bertabur layangan gambreng.

“Ini saya buat sendiri, bahannya juga mudah didapat, cara membuatnya juga tidak sulit,” ujar Sandi kepada TIMES Indonesia, akhir pekan lalu. Minggu (30/08/2020).

Terbuat dari karung bekas semen, bambu, plastik, tali dan benang, layangan gambreng sengaja dibuat dengan ukuran lebih besar dari pada umumnya. Layang-layang jenis ini paling kecil berukuran 2 meter. Banyak yang mencapai hingga lima meter yang membuatnya menjadi layang-layang raksasa.

Yang membedakan dengan layang-layang pada umumnya ialah suara yang dihasilkan. “Ya karena suaranya yang cempreng makanya ini disebut layangan gambreng,” jelasnya.

Nur, penghobi layangan menambahkan, suara tersebut berasal dari plastik (sawangan) yang berada di kepala layangan. Selain menggunakan plastik, biasanya menggunakan janur atau daun muda kelapa yang dikeringkan.Jika tertiup angin, plastik atau janur ini akan menghasilkan suara khas yang terdengar sampai bawah.

Berbeda dengan layang-layang biasa yang menggunakan benang keccil yang tajam untuk sambitan, layangan gambreng menggunkanan tali tampar yang berukuran kecil.

Untuk membuatnya lebih menarik, penghobi kerap menempelkan lampu led warna warni yang pada layangan gambreng. Dengan memanfaatkan tenaga baterai jam tangan, maka lampu tersebut akan menyala pada malam hari.

“Biasanya gambrengan ini dipasang sore hari pas angin lagi bertiup kencang, pagi harinya  akan turun sendiri karena angin sudah berhenti” jelas Nur.

Selain untuk mengisi waktu di sore hari, para pemuda Desa Jegreg, Nganjuk juga berharap agar permainan layang-layang, khususnya layang-layang gambreng akan tetap lestari. (*)