Menggalakkan Kualitas dan Lindungi dari Serangan Hama, Kakao Pun Mengenakan Masker

Menggalakkan Kualitas dan Lindungi dari Serangan Hama, Kakao Pun Mengenakan Masker

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Tak hanya manusia, tanaman kakao pula memerlukan masker. Setidaknya itulah dengan dilakukan Regu Pengendali Organisme Bisul Tanaman (RPO) Gotong Royong pokok Provinsi Gorontalo dalam melindungi tanaman kakao dari serangan hama dan penyakit.

Masker untuk tanaman penghasil target baku cokelat ini, merupakan menyarung yang digunakan untuk membungkus buah kakao agar terlindung dari kuman penggerek buah kakao.

Kakao-2.jpg

Upaya yang dilakukan RPO Gotong Royong tersebut satu dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan RI) Syahrul Yasin Limpo. Mentan sebelumnya mendorong agar seluruh leretan Kementerian Pertanian dan petani mencari jalan menggenjot produktivitas komoditas pertanian tercatat perkebunan, sehingga memiliki kualitas yang bernilai tambah dan berdaya saing dipasar dunia.

Menurut penggerak RPO Gotong Royong, Slamet, upaya pemasangan menyarung pada buah kakao tersebut lestari dilakukan meski saat ini terjadi pandemi Covid-19. Tentu saja, jalan perlindungan tanaman kakao dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Di tengah pandemi ini, kami tetap gerak. Lha wong bukan hanya kita yang mau sehat tho, kakao ne juga kudu sehat, jadi OPT ne harus dibasmi, kalo dibiarin aja kakaonya mati kita malah jadi pusing malah jadi teliti sehat kabeh, ” ujar Slamet dalam keterangan tertulisnya, Selasa (22/9/2020).

Tatkala itu Tim Pendamping Petani Kakao, Gusti mengatakan OPT yang banyak menyerang kakao di lahan kira-kira yaitu hama Penggerek Buah Kakao (PBK). Oleh karena itu, pihaknya menerapkan pemasangan sarung pada buah kakao.  

“Jika tidak dikendalikan, larva PBK mampu menyebabkan biji buah kakao saling lengket sehingga menjadikan kualitas dan kuantitas produksi bahan menurun hingga 70%. Kita lakukan sarungisasi biar ulatnya ga mampu masuk ke buah, kita aja disuruh pake masker, kakaonya oleh sebab itu nya dimaskerin juga, ” katanya.

Kaidah sarungisasi ini dilakukan saat bahan masih sangat muda, pentil berukuran kurang lebih 8 cm. Secara berbekal peralatan sederhana yang terdiri dari karet gelang, pipa paralon, dan plastik, metode sarungisasi ini dapat mencegah imago PBK meninggalkan telur pada kulit buah kakao sehingga larva tidak akan menggerek ke dalam buah. Kedua pucuk plastik dilubangi agar udara dapat bertukar dan tidak lembab.

Menurutnya, tata cara tersebut merupakan salah satu bagian Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang cenderung ramah lingkungan karena tak menimbulkan residu kimiawi, resurgensi serta resistensi hama, serta sangat mudah-mudahan dilakukan. Pemakaian plastik dapat berulang pada musim buah selanjutnya.

Dengan pemasangan masker sarung pada buah kakao, Slamet menyebutkan dari 1 hektar lahan bisa dihasilkan lebih lantaran 1 ton kakao. Harganya selalu cukup baik, Rp 38. 000 untuk kakao fermentasi dan Rp 20. 000 untuk yang non fermentasi. Ia berharap kerjasama dengan pihak pemerintah ini terus berjalan dan ditingkatkan dalam membangun independensi petani. Dengan semangat gotong royong, pengendalian kesehatan kakao dan melestarikan kesehatan diri bisa dilakukan dengan bersamaan. (*)