Mengenang Kota Banjar sebagai Kota yang Tak Pernah Terbaring

Mengenang Kota Banjar sebagai Kota yang Tak Pernah Terbaring

TIMESINDONESIA, BANJAR – Kota Banjar pra bertransisi dari Kabupaten Ciamis sempat dijuluki sebagai praja transit. Pada waktu itu, statusnya masih sebagai Kewadanaan dengan kontribusi PAD terbesar di Pemerintahan Ciamis.

Di dalam masa tersebut, Banjar dikenal sebagai kota yang tidak pernah tidur. Aktivitas perdagangan dan industri pariwisata sebagai pintu gerbang menuju Pantai Pangandaran begitu hidup tengah itu.

Stasiun Banjar pernah menjadi pusat keramaian sebagai Kota Transit pada masanya (FB/Arif Kurniawan)

Jadi kota transit, Kota Kampung menjadi persinggahan pelintas dengan ingin melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah di belang Utara, jalur Barat ke Bandung, jalur Timur ke Yogyakarta dan jalur Selatan menuju Kabupaten Pangandaran. Otomatis, hotel dan penginapan dalam ujung Jawa Barat itu selalu dipenuhi tamu lantaran luar daerah.

Berlokasi pada Jalan Tentara Pelajar, Gedung GBI yang berdiri besar di samping Kelurahan Mekarsari dulunya merupakan terminal bus yang menjadi pusat pesta Kota Banjar.

Geliat perekonomian masyarakat saat menjadi praja transit tersebut dikenal meningkatkan perekonomian warga Kota Dukuh. Bukan hanya berdagang, warga memanfaatkan keramaian tersebut dengan membuka berbagai peluang jalan yang selalu berkembang.

Salah satu penunjang keramaian pada zaman itu adalah dengan adanya dua bioskop kenamaan dalam Kota Banjar yaitu bioskop Kenanga dan Sodara.

Dulunya, disini adalah terminal bus dengan menjadi pusat keramaian Kota Banjar (Foto: Susi/TIMES Indonesia)

empat tertinggal, kedua gedung bioskop tersebut kini bermetamorfosis menjadi Tengah Perbelanjaan Yogya dan Besar, persis setelah status Banjar memisahkan diri dari Negeri Ciamis dan menjadi Praja.

Untuk mengembalikan masa kejayaannya, Toserba Samudra dibangun mengoper bioskop Kenanga dengan sarana Cineplex Baninza yang kini bisa melanjutkan sejarah per di Kota Banjar.   (*)