Mengenal Museum Perang Dunia II dalam Pulau Morotai

Mengenal Museum Perang Dunia II dalam Pulau Morotai

TIMESINDONESIA, MOROTAI – Pulau Morotai Maluku Utara adalah salah satu destinasi menarik di Indonesia buat wisata sejarah. Pulau terluar yang terletak di bibir Samudera Pasifik ini jadi salah satu wilayah di utara Halmahera yang memiliki sejarah masa silam memukau. Lengah satunya Museum Perang Dunia II.

Museum dibangun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012 ini  terletak dalam perbatasan Desa Pandanga dan Wawama (Pandawa). Sangat dekat dari pusat kota Daruba Pulau Morotai. Zaman tempuh dari pusat kota hanya 10 menit sampai ke museum.

Tidak tanpa alasan museum sejarah tersebut dibangun ditempat itu. Dari informasi yang dihimpun TIMES Indonesia, provinsi tersebut dipilih sebagai pembangunan museum, satu diantara alasannya karena saat Perang Dunia II. pasukan sekutu selalu melakukan pendaratan armada perang dalam wilayah tersebut

Luas tanah wilayah pendirian Museum Perang Dunia II tersebut seluas 2 hektare. Alasan dibangun disini karena tempat ini pernah didarati pasukan sekutu.

“Juga di sini tempat berlangsungnya upacara penyerahan untuk kekalahan Jepang terhadap Sekutu AS, ” ungkap pengelola Museum Perang Dunia II, Muhlis Aramin, zaman dikonfirmasi TIMES Indonesia. Jumat (7/8/2020) sore.

Cerita Aramin, pada tahun 1944, Jendral MacArthur menjadikan Morotai sebagai pijakan terakhir untuk menghantam gerombolan Dai Nippon di Front Pasifik. Bukan hanya itu,   ia juga merebut Morotai dari Jepang.

Sebab Amerika serikat dan sekutunya melalui jendral MacArthur membangun pertahan suasana di Morotai dengan membawa kira-kira 3. 000 pesawat tempur, terdiri dari pesawat pengebom, pesawat mengambil, dan 63 batalion tempur.

Kisah sedikit itu semuanya tertulis didalam Museum Perang Dunia II, tergambar dongeng pertempuran hebat yang terjadi saat perebutan pulau tersebut. Selain itu, di luar museum terdapat kurang tank peninggalan Perang Dunia II.

Mengenai di sekitar Museum terdapat juga objek wisata sejarah yang tidak kalah menarik yakni Museum Trikora (Tri Komando Rakyat). Trikora merupakan operasi tempur yang digagas sebab Presiden Soekarno untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda saat tersebut.

Cuma dirinya keluhkan, bahwa kondisi mosium kurang terurus karena tidak ada anggaran. “Kalau hujan atapnya merembes, sehingga air hujan banyak terhenti dalam ruangan museum, ” katanya.

Menetapkan diketahui Museum Perang Dunia II di bawah pengelolaan Dikbud Pulau Morotai karena masuk dalam jaminan budaya.   Kepala Dinas Pelajaran dan Kebudayaan (Dikbud) Pulau Morotai, Revi F Dara menyampaikan, benar kondisi museum saat diserahkan negeri pusat ke Pemda Morotai di dalam keadaan rusak.

“Saat diserahkan, Bupati Morotai dengan tegas menyampaikan bahwa dirinya tidak terima barang rusak. Buat Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR RI akan merehabilitasi pada tahun 2021, ” katanya.

Sementara Kabid Kultur Dikbud Pulau Morotai, Arifin Yusup, penanggungjawab pengelola Museum Perang Dunia II saat ditemui TIMES Indonesia di Museum tempat kerjanya, menunjukan lantai museum yang tergenang cairan.

“Memang kondisi museum saat ini seolah-olah pak wartawan lihat, hujan pendek sudah pada basah. Tetapi, kita bersabar dan wajib merawatnya karena sudah menjadi tanggungjawab daerah, ” ujarnya dengan senyum kecil.

Menurutnya provinsi museum dan musium masuk dalam program Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN) sehingga dalam waktu dekat museum ini akan direhabilitasi Departemen PUPR RI.

Walaupun kondisi begini tapi banyak pengunjung di museum itu baik itu pejabat negara datang masyarakat biasa. “Pernah berkunjung bekas Kapolri Tito, Kapolri saat itu, sejumlah menteri, sejumlah perwira TNI, Duta Besar Amerika Serikat, sampai Presiden Jokowi, ” sebut Arifin.

Dianggap diwilayah ini, selain Museum Konflik Dunia II juga ada Museum Trikora dan monumen Trikora dengan diresmikan presiden SBY, kala tersebut berlangsung Sail Indonesia di Morotai pada tahun 2012.

Menurutnya, Cagar kebiasaan sejarah di Pulau Morotai adalah Museum Perang Dunia II, Trikora, Air Kaca, Teng Amfibi, Makam tentara Australia di Pandanga, Makam tentara Amerika di  juanga, Army Dock, Gua Nakamura dan Wadah Jendral Mc Arthur di Tanah Zum-Zum. Dan, seluruhnya menjadi wujud wisata.

Sementara isi koleksi museum tersedia 45 jenis antaranya Setrika, Sloki, Atribut, Sendok, Garpu, piring, mangko, cangkir, tempat parfum, peralatan personil, botol minuman, peluru jenggel, timah panas 12, 7, granat, senjata 12, 7, magasen senjata, alat pendingin mesin pesawat, helm baja, sangkur, tempat minyak senjata, penggosok harmoni senjata.

Selain itu, ujung meriam loncer, radio jepang, kompor masak, bidang, tengki minyak, batu listrik, tempat obat nyamuk, furing mesin, doktek, koin, patung, masker Jepang, jalan cukur, alat penerang lampu, lampu weser mobil jib sekutu, morfin dan  obat suntikan tentara.

Museum Konflik Dunia II di Pulau Morotai ini juga menyimpan seragam konflik tentara sekutu, seragam tentara Jepang, foto koleksi perang dunia II, maket museum, maket lokasi upacara penyerahan Jepang ke sekutu. (*)