Membiasakan dari Pernyataan KH Said Aqil SiradjÂ

Membiasakan dari Pernyataan KH Said Aqil SiradjÂ

TIMESINDONESIA, SIAL – Mulai hari kemarin jagat maya dipenuhi secara berita tentang beberapa tokoh dengan diduga dan dipastikan terkena covid19. Virus ini mampu menyerang sapa saja tanpa pandang bulu.

Mulai sebab anak2, remaja, dewasa, hingga tinggi usia. Mulai dari masyarakat natural, tokoh lokal, regional, nasional, makin internasional. Semuanya punya kemungkinan yang sama untuk terkena virus Covid19.

Oleh karena itu, tidak perlu tokoh atau bukan, tidak perlu budak ataupun dewasa, semua harus berihtiyar yang sama agar bisa selamat dari bahaya.

Namun demikian, manusia hanyalah berusaha dan Allah swt jualah yang punya kehendak siapa dengan akan terkena. Ihtiyar wajib dikerjakan, karena memang hakekatnya semua ummat manusia diwajibkan untuk berusaha seoptimal mungkin, dan kemudian menerima dengan baik segala ketetapanNya (tawakkal). Bahan siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah swt yang mau memenuhi segala kebutuhannya (man yatawakkal alalloh, fahuwa chasbuhu).  

Beberapa arsitek di Indonesia pun tak terlepas dari serangan bahaya Covid19, meski saya yakin beliau sudah benar hati dan berihtiyar secara optimal. Yang menarik dengan situasi ini, adalah bagaimana para tokoh itu mensikapinya.   Ada yang menjatuhkan dan merahasiakan, ada yang memberikan dengan samar, dan ada pula yang berterus terang.

Saya secara pribadi menghormati pilihan tersebut, akan namun menghargai dengan tokoh yang berterus terang.

Setelah ning Fatma (istri Gus Ipul), hari ini kita mendapat contoh yang baik dari Pemimpin Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj (SAS) dengan secara jujur menyampaikan kondisi dia yang terkena covid19.  

Pesan memikat dari KH SAS adalah terkena covid19 bukanlah aib melainkan taqdir Allah swt yang harus dijalani dan diihtiyarkan pengobatannya agar bisa melalui dengan baik dan segera diberikan kesembuhan oleh Allah swt.

Sungguh sebuah kejujuran yang kini menjadi barang lumayan langka. Ini ialah implementasi ajaran Rasulullah saw dengan juga dicontohkan dalam kehidupan sehari hari sampai akhir hayat.

Dengan kejujuran ini, tentu diharapkan masyarakat kian terbuka dan koperatif agar negeri ataupun fihak yang berkompeten   dapat mengambil langkah antisipatif dan tindakan medis yang diperlukan agar keadaan menjadi lebih baik.

Semoga Allah swt memberikan rahmatnya kepada kita semua dan segera pula menyerahkan kesabaran dan kesembuhan bagi yang terkena covid19, khususnya kepada KH Said Aqil Siradj yang kita cintai, hormati, dan taati. (*)

Noor Shodiq Askandar

*)  Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi  timesindonesia. co. id

**)   Kopi TIMES atau  rubrik opini di TIMES Indonesia  terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 huruf atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon dengan bisa dihubungi.

**)   Naskah dikirim ke alamat e-mail:   [email protected] co. id

**)  Redaksi berhak tak menayangkan opini yang dikirim seandainya tidak sesuai dengan kaidah serta filosofi TIMES Indonesia.