Masyarakat Indonesia Jual Rumahnya Rp 600 Juta untuk Wujud Sumur Wakaf di Palestina

Masyarakat Indonesia Jual Rumahnya Rp 600 Juta untuk Wujud Sumur Wakaf di Palestina

TIMESINDONESIA, MALANG – Tekad Triyanto semakin bulat. Pria pemilik panti yang viral karena dijual untuk membantu warga Palestina itu ingin membangun sumber wakaf di atas tanah Palestina.

Dia menghibahkan beberapa hartanya dari hasil penjualan rumah pribadinya untuk menolong warga Palestina, di sedang konflik militer dengan Israel.

Bukan untuk dibelanjakan senjata perang, melainkan melengkapi kebutuhan sumber kehidupan yakni sumur. Menurut informasi yang diperoleh, kebutuhan air bersih di Palestina sangat mendesak.

Kondisi rumah Triyanto yang telah laku terjual kepada orang Banyuwangi. (Foto: Dok. Triyanto for TIMES Indonesia)

Terinspirasi dari Utsman bin Affan

Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga yang berkuasa pada tahun 644 sampai 656 dan merupakan Khulafaur Rasyidin dengan era kekuasaan terlama.

Menurut Triyanto, Sahabat Utsman bin Affan pada zamannya membeli dan membangun sumur untuk diwakafkan kepada kepentingan masyarakat umum, tidak hanya muslim akan tetapi juga orang Yahudi kurun itu.

Menurut cerita, Sahabat Utsman membeli sumur sebab seorang Yahudi. Kemudian, setalah terbeli, sumur tersebut langsung diwakafkan hingga juga dipakai oleh semua masyarakat, tercatat kaum Yahudi.

“Saya senang, karena terinspirasi dari dia. Sampai sekarang ya sedang bermanfaat bagi kehidupan manusia, tidak pandang apa agamanya, ” kata Triyanto pada TIMES Indonesia, Kamis (30/5/2021).

Bapak dua anak tersebut mengaku sumur merupakan sumber kehidupan masyarakat. Setiap zaman manusia membutuhkannya.

Ada beberapa alasan. Pertama, air tersebut sejuk, damai dan bersifat membersihkan. Kedua, air memiliki sifat sebagai sumber kesibukan dan energi. Ketiga, sebagai simbol perdamaian karena semua orang yang berkonflik, tetap akan membutuhkan air.

“Menurut saya (sumur) ini betul fleksibel kegunaannya. Yang hamba pegang adalah spirit perdamaian. Air sangat berharga di sana. Siapapun bisa memakainya. Bisa untuk membersihkan muncul, minum, menyiram tanaman, serta banyak manfaatnya, ” bebernya.

Hal demikian lah dengan menjadi motivasinya mengapa mengangkat untuk membangun sumur, daripada dibuat untuk belanja senjata.

“Kalau senjata, ujungnya untuk peperangan. Nah, di sini beta tidak paham soal politik. Saya orang fakir. Apa itu zionis, apa tersebut Hamas. Saya tidak paham. Yang saya inginkan cuma perdamaian dan kemanusiaan, ” sambungnya.

Merasa Dekat dengan Ajal

Siapa sangka, seorang Triyanto ternyata eks penyintas Covid-19. Dirinya pernah divonis positif Covid-19 pada simpulan Januari 2021 lalu.

Tak ada bayangan lain di dalam benaknya kecuali dekat secara ajal. Ia berikhtiar memasukkan anjuran dokter, yakni melayani isolasi mandiri di rumahnya.

Dengan seorang diri, tempat mengurung di rumahnya. Orang sedang tugas kerja pada Kalimantan, sedangkan kedua anaknya ada di Yogyakarta.

“Kemudian saya diberi kesembuhan sebab Allah. Ini peringatan sekaligus Allah memberi kesempatan ke-2 untuk hidup. Ini titik balik. Saya niat sebanyak-banyaknya mencari bekal akhirat, ” ujar pria 47 tahun itu.

Tergerak Setelah Mengaji Berita

Kemudian, Triyanto galau karena melihat banyak pemberitahuan tentang konflik Palestina & Israel. Menjelang perayaan Keadaan Kemenangan Hari Raya Idul Fitri, ia tidak kuat menonton adegan baku arah dari serdadu Israel yang membabi buta kepada masyarakat Palestina di Masjid Al Aqso.

Salah satu asetnya yang berada di Banyuwangi, yakni rumah di Kastil Brawijaya Blok XE 4-8 ia tawarkan untuk dihibahkan kepada warga Palestina.

“Ada sekitar 35 orang yang menawar kepada saya, ” imbuh Triyanto.

Setelah mencari harga tertinggi, yakni berhenti di angka Rp 600 juta, rumah tersebut dicopot kepada warga asli Banyuwangi yang kini tinggal pada Probolinggo atas nama Ira.

Ira sebagai pihak pembeli telah membayar uang membuang sebesar Rp 5 juta. Uang muka itu dianggap tanda jadi olehnya. Jadi langkah selanjutnya adalah pelunasan sambil lalu mengurus administrasi dan membawanya kepada notaris.

“Rencananya Sabtu besok awak bersama-sama ke notaris. Sudah dapat notaris dan menyetujui pelunasan Juni nanti. Kami juga menunggu kedatangan orang yang kini sedang suruhan di Kalimantan, ” terangnya.

Gandeng ACT

Organisasi kemanusiaan bersifat kerelawanan bernama Gerak laku Cepat Tanggap atau ACT dipilih oleh Triyanto jadi mitra menyambung donasi.

Menurut keterangan proposal yang disampaikan ACT kepadanya, dibutuhkan perkiraan sekitar Rp 275-300 juta untuk bisa membeli & membangun sumur wakaf di Palestina.

Penyerahan donasi kepada ACT direncanakan pada pertengahan Juni. Begitu pelunasan, saya serahkan langsung, ” tegasnya.

Dibuatkan Prasasti Keluarga Luhur

Setelah berkoordinasi dengan bagian ACT, proposal tersebut disetujui oleh Triyanto. Secara teknis, dirinya sepakat untuk menyerahkan sepenuhnya kepada pihak ACT sebagai pelaksana di lapangan.

Nantinya, di sekitar sumber wakaf yang dibangun itu akan dibuatkan prasasti segera keluarga besar dari tim Triyanto beserta istri.

“Prasasti kurang lebih nama donatur. Ya nanti mungkin anak besar kami, ” tandasnya.

Sebagai donatur, Triyanto bersama keluarga besarnya hanya memiliki satu harapan warga Palestina hidup damai dan hening. Sumur wakaf darinya diharapkan memberi manfaat bagi seluruh masyarakat Palestina. (*)