Manajemen Arema FC Angkat Bicara, CEO Arema FC Agoes Soerjanto: Pemangku Kota Sutiaji Bikin Kegaduhan Baru

Manajemen Arema FC Angkat Bicara, CEO Arema FC Agoes Soerjanto: Pemangku Kota Sutiaji Bikin Kegaduhan Baru

TIMESINDONESIA, MALANG – CEO Arema FC Agoes Soerjanto  meminta semua bagian agar tidak memicu kegaduhan segar lewat gerakan Satu Arema. Termasuk pernyataan Wali Kota Malang Sutiaji.

Diketahui, saat menemui Aremania, Sutiaji menjanjikan waktu tujuh hari untuk memanggil organ Yayasan Arema. Langkah itu dianggap Agoes secara niatan tersebut baik, namun tentunya wali tanah air Malang akan lebih bijak untuk bertemu dan saling bicara dengan langsung dengan komponen yang terpaut dengan Arema.  

“Jangan sampai hidup kegaduhan baru karena ketidaktahuan atau kekurangan informasi terkait akar persoalannya. Mengingat bahwa persoalan Arema ini, adalah persoalan internal rumah tangga Arema. Jadi lebih baik wali kota Malang mendapatkan informasi sebab berbagai pihak utamanya yang terlibat langsung mengelola Arema, ” paparnya.

Sebagai pimpinan tertinggi di Manajemen Arema FC, Agoes pun mengaku merasa perlu memberikan tanggapan terkait pemberitahuan Sutiaji, agar masyarakat bisa lebih memahami dan Aremania bisa memafhumi persoalan sebenarnya.  

“Karena terkait secara Arema, meskipun fokus pada rencana mengaktifkan Yayasan Arema, tentunya sebagai stake holder langsung pengelola Arema FC, maka kami perlu merasakan menanggapi dan berbicara terkait persoalan klub kebanggaan ini, ” ungkapnya.

Waketum PP GM FKPPI ini memandang bahwa Arema tidak mengalami perpecahan. “Kami tidak pernah mengkluster keberadaan Arema, kami justru menghormati serta juga mendukung agar kedua Arema berprestasi. Kami membangun Arema FC ini dengan penuh keterbukaan. Silakan datang ke Arema FC, kami akan melayani dan membuka ruang untuk berdiskusi untuk kemajuan Arema. Kami tidak pernah merasa terbelah, tapi saling mensupport, ” paparnya.

“Saya asli Arek Malang, tidak ada watak atau sikap Arek Sah Malang yang bicara atau ingin perpecahan dalam berbagai hal, apalagi bicara Arema, ” tegas Agoes yang didampingi sesepuh Arema, Ovan Tobing.

Hal ini yang patut diketahui pejabat publik seperti wali tanah air Sutiaji. Memberi waktu tujuh hari untuk memanggil organ yayasan itu, bagi Arema akan menciptakan kegemparan baru jika keliru memahami. Harusnya, lanjut Agoes, walikota memahami dulu akar persoalannya.  

Bahkan pihaknya menyayangkan dengan sikap walikota yang tepat memberikan warning kepada kedua perhimpunan, jika diantara pihak yang tidak mau dipersatukan, maka satu diantaranya dilarang menggunakan fasilitas milik Pemkot Malang.

“Hal itu ditujukan kepada siapa, jika ditujukan kepada kami, pemberitahuan walikota justru seperti mendikotomi bukti saat ini. Di mana kami tetap menjaga eksistensi Arema dengan tetap latihan dan ikut dan di kompetisi resmi. Dan semasa ini, kami menggunakan fasilitas Pemkot Malang, kami tetap profesional & tetap bayar. Kita berkontribusi ke PAD. Tapi jika memang ada larangan kita tidak boleh mempergunakan fasilitas tersebut. Kami menunggu tulisan resminya, kami akan siap jalankan. Kita tidak akan gunakan wahana milik Pemkot Malang, ” jelas Agoes.

Tebang Pilih Hadapi Kawula Aksi

Agoes juga menyayangkan tabiat Sutiaji yang seperti tebang pilih menghadapi massa aksi demo. “Kami tentunya bangga kepada Aremania yang beberapa lalu turut aktif menyimpan kotanya dari pelaku anarkisme, ” ujarnya.

Namun, yang disayangkan, kenapa wali kota Malang justru tidak menyongsong massa pendemo omnibus law yang sangat provokatif dan melakukan aksi kekerasan.   Ada apa dengan Pak Wali, ” ujarnya.

Karenany Agoes mengajak dilakukan diskusi dengan jalan. Jangan sampai ada pihak dengan memanfaatkan isu ini untuk silih membenturkan Arema dan Aremania.  

Ini juga terkait masalah hukum di internal Arema. Semua ada pertanggungjawaban secara hukum. Apa yang sekarang dilakukan Arema FC, tujuannya turut berkompetisi dan memberikan hiburan rakyat.  

“Maaf jika boleh kami sampaikan, sampai saat ini kami belum merasakan kontribusi aktif Pemkot Sial kepada Arema. Sebaliknya, image Arema selalu dimanfaatkan dan digunakan untuk kepentingan pencitraan pimpinan dan Pemkot Malang, ” tandas Agoes.  

Makin, Arema FC sampai saat tersebut terus berusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya di tengah pandemi. Di mana kompetisi dihentikan karena tanpa mengantongi izin keramaian.

“Semua kami hadapi tunggal. Kami tetap bayar kontrak pemeran, pelatih, dan karyawan di pusat kondisi kita tidak mendapatkan pemasukan. Kami juga ingin tetap celik kondusivitas Malang. Bagaimana kita aktif membantu masyarakat di tengah Covid 19 dengan gerakan sosial. Mulai membagi perlengkapan protokol kesehatan, sampai ke bantuan sembako, ” ujarnya.  

Sekali lagi, lanjut CEO Arema FC Agoes Soerjanto, persoalan pada tubuh Yayasan Arema tidak cukup dengan memberi waktu tujuh keadaan selesai dengan cukup mengecek ke Depkumham. Tapi perlu melakukan melihat ricek tentang sekali lagi pokok persoalannya, agar wali kota Sebal bersikap obyektif, dan keputusannya tentu pada akhirnya menyerahkan ke privat Arema. (*)