Maestro Harmonika Amang Genggong, Aset Istimewa Gresik

Maestro Harmonika Amang Genggong, Aset Istimewa Gresik

TIMESINDONESIA, GRESIK – Kring… Kring.. Kring.. “HALLO PAK KETUA, “. Terdengar suara lirih dari ajaran kantor DPRD Gresik saat saya keluar dari kantor. Adalah mbah Amang Genggong. Sudah menjadi kebiasaannya setiap kali melintas di depan gedung DPRD Gresik. Siapapun yang berjumpa dengannya. Di mana sekadar. Kapan saja. Kalau berjumpa. Hendak selalu di sapa. Termasuk aku.

Mayoritas warga Gresik mengenalnya. Terutama kemampuannya yang lihai dalam memainkan harmonika. Umurnya sudah menginjak kepala delapan. Tapi semangatnya itu loh. Tak mau kalah dengan yang muda-muda. Terus mengayuh sepeda onthel kesayangannya. Berkeliling setiap hari. Dari lepau ke warung. Sekedar ingin bercengkrama. Bersama orang-orang yang dikenalnya. Secara minuman favoritnya. kopi hitam pekat. “Srupuuut…. ”

Tetapi sejak sebulan tersebut. Tak terdengar lagi suara istimewa itu. Di sudut kota pudak. Di tepi jalan protokol. Pada keramaian warkop.  

“Jenengan ten pundi mbah Amang kok boten ketingal blas” tanya saya dalam sinting.

Salah seorang anggota dewan memberitahu saya jika pak Amang sedang sakit karena terjatuh dari sepeda onthelnya itu. Ya Allah.. Ya Karim.. Benar saja. Suasana di praja santri itu lain. Tak bagaikan biasanya. Rupanya sang maestro harmonika kebanggaan kita itu tengah tidak berdaya. Tubuhnya terbaring lemas.

Kemarin suangi, saya bergegas menuju jalan Nyai Ageng Arem-arem. Tepat di pungkur rumah Gajah Mungkur. Saya berlaku memasuki lorong kecil. Disitulah Bungkus Amang menghabiskan hidupnya seorang diri. Sehari-hari. Hanya ditemani sunyi. Dalam rumah yang berukuran mini. Namun sumbernya inspirasi. Sampai-sampai beliau berhasil menyabet  piagam penghargaan dari rekor muri.

Di atas kasurnya yang tipis dengan spreinya yang lusuh tersebut. Pak Amang nampak menikmati tidurnya. Meski saya sendiri sebenarnya tidak tega. Saya menawarinya kasur dengan lebih layak. Tapi beliau bertambah menikmati kasur tipisnya itu.

“Pripun kondisine Mbah, ” tanya saya.

“Durung iso sepeda’an gus, ” jawab mbah Amang.

“Ayo mbah kulo betoh ten rumah sakit mawon nggeh ben cepet waras, ” tawar saya.

“Gak usah gus, tak istirahat nak omah wae” jelas mbah Amang.

Semangat kemerdekaannya itu loh. Nampak nyata. Mengalir deras dalam darah lembut mbah Amang. Di saat tubuhnya terbaring lemas, tangannya mencoba mengulurkan sebuah buku. Semacam antologi. Gugus eksistensi (foto-foto pentasnya, red) dalam dunia musik dari era susunan lama hingga era reformasi (digital). Foto-foto itu terbingkai rapi. Seraya bercerita. Buku itu ditunjukkan ke saya. Lembar demi lembar kami buka. Sembari saya mensupportnya untuk doyan makan. Agar sehat. Biar bisa beraktifitas kembali. Meramaikan situasi kota industri. Dengan alunan harmonikanya yang merdu itu. Serta gaya andalannya ‘Never On Sunday”.

Melihat perjuangan hidup Lelaki kelahiran Gresik 21 Juli 1940 itu. Membuat hamba tersadar bahwa para seniman dalam Gresik merupakan aset penting yang tidak boleh diabaikan begitu selalu. Seperti mbah Amang. Ia sendiri ternyata mampu memainkan tiga metode musik sekaligus, bahkan sambil berperan silat. Ini belum ada sebelumnya di Gresik. Hanya satu-satunya dalam Gresik. Sampai detik ini. Biar masih mbah Amang yang bisa melakukan itu.

Puluhan lagu bisa dimainkannya dengan mahir. Baik itu rani bahasa Inggris, Jepang, Mandain maupun lagu-lagu daerah. Kepiawaiannya memainkan harmonika itu tlah diakui banyak karakter. Deretan piala dalam ajang festival yang pernah diikutinya juga menghiasi dinding-dinding rumahnya. Bahkan, kehebatannya memainkan harmonika dalam tiga suara sekali lalu itu membuatnya masuk dalam salah satu dari enam pemain harmonika fenomenal di dunia.

Nama mbah Amang sendiri disejajarkan dengan Hermine Deurloo (pemain harmonika asal Amsterdam), Jason Ricci (asal Amerika), Toots Thielemans (asal Belgia), dan Jean-Jacques Milteau (asal Prancis), Hari Pochang atau Hari Krishnadi, asal bandung sahabat Alm. Harry Roesli. Maka tak heran kalau mbah Amang dikenal sebagai Maestro Harmonika yang benar unik.

Mbah Amang Genggong mugi bugar njeh. Kulo kangen munine suoro harmonika lan sepedae jenengan ten dalan. Mohon doanya warga Gresik untuk kesembuhan beliau!

*Rumah Amang Genggong, 30 Juni 2020

****

*) Oleh: Fandi Akhmad Yani, Ketua DPRD Gresik & Bakal Calon Bupati Gresik

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi  timesindonesia. co. id

*)   Salinan TIMES atau  rubrik opini di TIMES Indonesia  terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 sekapur. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*)   Naskah dikirim ke alamat e-mail:   [email protected] co. id

*)  Redaksi mempunyai tidak menayangkan opini yang dikirim.