Kids Zaman Now: Bertasawuf Secara Mudah

Kids Zaman Now: Bertasawuf Secara Mudah

TIMESINDONESIA, SUMENEP – Resensi Buku

Judul: Kids ZamanNow, Menemukan Kembali Islam
Penulis: Dr. Muhammad Nursamad Kamba
Penerbit: Wacana Iman
Tebal: 304 kaca
ISBN: 978-602-8648-28-8

Bertasawuf dalam kehidupan umat Islam  kekinian sedang terlihat sangat minim. Seakan-akan implementasi nilai-nilai tasawuf kurang begitu diperhatikan. Sejatinya Islam dan tasawuf ialah merupakan satu kesatuan yang tak dapat terpisahkan. Penulis mengilustrasikan bahwa tasawuf dan Islam sesuatu yang saling menyatu. Keduanya menyatu dan menunggal, tidak bisa dibedakan mana akar mana cabang.

Tasawuf menjadi pondasi dan prinsip dalam   Islam. Demikian mengutip pernyataan Prof. Dr. Husain Mu’nis dalam bukunya Dustur Umat Islam: Dirasat Fi Ushul al-Hukm wa al-Thabi’atihi wa Ghayatihi ‘Inda al-Muslimin . Artinya, bahwa Islam hadir bersamaan dengan pendidikan tasawuf. Dalam hal ini, Islam tidak hanya berisi tentang seperangkat indoktrinasi dan teologis, akan tetapi jauh lebih penting dari itu adalah tentang adab, moral atau akhlak.

Buku ini dihadirkan untuk menjadi bahan evaluasi untuk kita semua. Terlebih bagi anak muda jaman sekarang, Kidz Zaman Now.

Melalui buku ini, penulis mengritik anak-anak muda jaman sekarang biar tidak terlalu bersemangat melembagakan Islam. Islam menurut penulis tidak perlu dilembagakan. Tidak perlu pula memaksakan kehendak kepada orang lain supaya mengikuti atau bermakmum pada kebiasaan apapun. Dengan melakukan pemaksaan hasrat terhadap orang lain pada dasarnya telah mengambil alih hak pokok Allah SWT itu sendiri. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Tunggal, pemilik otoritas mutlak. Sementara Allah SWT sendiri tidak membenarkan adanya sikap pemaksaan tersebut.

Jiwa para muda memang penuh dengan gelora. Ketika semangatnya membara, maka dapat dipastikan dia akan berjuang dengan sepenuh hati untuk mewujudkan idealismenya menjelma konkret. Itulah darah para muda. Di era informasi ini banyak sekali para pemuda dengan semangatnya ikut serta melakukan pembumian ajaran-ajaran Islam. Semangat dakwah ini tentunya perlu diapresiasi. Tetapi tidak mengucup kemungkinan juga harus diantisipasi.

Perkembangan teknologi informasi yang serba canggih bagaikan saat ini telah membantu mengubah banyak hal; dari pola koneksi yang dibatasi oleh ruang serta waktu menjadi pola komunikasi bahan tanpa batas; dari sesuatu dengan awalnya sulit bertemu, sulit mengakses sesuatu menjadi mudah. Kemudahan itu tentu saja poin bagusnya. Tetapi begitu, di sisi lain, secara kemudahan tersebut, anak muda dengan suka malas-malasan belajar menyambung sanad keilmuan, yaitu dengan cara melancarkan langsung kepada salah seorang kiai, memanfaatkan teknologi sebagai sarana mengambil pelajaran secara instan tanpa menetapkan mengkritisinya.

Teknologi informasi, selain diapresiasi selalu harus diantisipasi. Banyak sekali orang-orang yang super sibuk memanfaatkan teknologi informasi ini sebagai sarana dakwah versi terbaru. Dikatakan versi terbaru, karena sebagian dari mereka memiliki maksud yang berbeda dari dakwahnya. Akibatnya, formalisme agama tidak mampu dihindarkan.

Tak pelak mereka melakukan pemelintiran data menjadikan beragama harus dengan cara administratif. Beragama Islam seharusnya tidak melalui administrasi golongan keyakinan. Tidak melalui prosedur madzhab atau aliran… Kids zaman now kudu bisa terbang ke angkasa, melompat ke cakrawala, mengendarai frekuensi, buat menemukan Maha Kekasih dengan kasmaran dan kemesraan (hlm. xvii).

Buku itu menawarkan pemikiran yang baru tapi menantang. Kita sebagai Kids Kala Now harus siap menerima tantangan tersebut. Meskipun demikian, ada beberapa yang perlu digarisbawahi di dalam buku ini ketika penulis mengkritik pemikiran yang sifatnya prinsipil, morat-marit untuk mempertahankan argumentasinya kemudian dia menggunakan Sunnah sebagai bahan seruan sebagai landasan hukum.  

Bagi penulis, Sirah Nabawiyah untuk kepentingan dakwah (sebagai pengajaran dan tabligh saja) bukan sebagai bahan pendidikan & indoktrinasi. Di sinilah yang oleh sebagian orang dikatakan agak kontroversial. Di sisi lain ada benarnya juga.

Banyaknya aliran pemikiran, madzhab atau golongan tertentu yang mengaku memutar beriman (menggunakan sunnah untuk kausa pragmatis) dengan mudah menyalahkan karakter atau kelompok lain yang berbeda cara pandangnya. Sunnah, menurut setia, yang seharusnya dijadikan bahan seruan akibat kepentingan pragmatis sehingga berlaku generalisasi dimana dijadikan media pokok penafsiran Al-Quran.

Mereka tidak peduli kalau ia hadis Ahad atau bukan. Yang penting itu sudah Sunnah. Akibatnya, Sunnah mengalami bias akal busuk Sunnah (hlm. 44). Di sinilah kelemahan mereka, memfatwakan sesuatu sesuai selera penampilannya. Buku ini menganjurkan kita cara bertasawuf  dengan cara dengan sederhana. Selamat membaca.

***

*)Oleh: Ashimuddin Musa, Pernah membiasakan di PP. Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, Guru di Motivator Quran Ekselensia Indonesia.

*)  Tulisan Opini ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungan redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan kejadian hidup singkat beserta Foto muncul dan nomor telepon yang mampu dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah & filosofi TIMES Indonesia.

Tajuk: Kids ZamanNow, Menemukan Kembali Islam
Penulis: Dr. Muhammad Nursamad Kamba
Penerbit: Pustaka Keyakinan
Tebal: 304 halaman
ISBN: 978-602-8648-28-8