Jika PJJ Benar Permanen

Jika PJJ Benar Permanen

TIMESINDONESIA, SEMARANG – SAAT INI , pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjelma satu-satunya solusi atas problem mendasar terselenggaranya proses belajar mengajar pada era pandemi. Dalam upaya mensiasati terselenggaranya proses pembelajaran tanpa menekan esensi ruang pembelajaran, maka negeri melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghimbau dan memberikan pendampingan kepada sekolah untuk melaksanakan PJJ dalam batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

Pendampingan yang diberikan pemerintah sangat bervariatif, mulai dari video streaming, pembelajaran yang disiarkan langsung di stasiun televisi nasional, ataupun meniti live di radio. Yang pula tidak kalah dalam mewarnai status pandemi ini adalah menjamurnya langgam webinar baik yang di penobatan oleh institusi pemerintah maupun institusi lain. Hal ini dikarenakan di tahapan PJJ akan bersinggungan tepat dengan perangkat teknologi dan turunannya.

Ditambah lagi hembusan kabar bahwa Kementerian Pendidikan akan mematenkan PJJ ini sebagai model pembelajaran. Melihat iklim ini, maka sikap sigap pemerintah    dalam memberikan layanan pendidikan patut diapresiasi oleh siapa saja.

Namun, dibalik beragamnya fasilitas penunjang pembelajaran yang ada, ada suara miring dimasyarakat tentang mahalnya biaya PJJ yang sudah berjalan ditambah secara sedang melemahnya perekonomian yang menggelayuti pundak masyarakat kita. Teknologi menjadi satu-satunya tumpuan dalam pelaksanaan PJJ, namun sayangnya teknologi belum seramah dan semurah yang diharapkan khalayak.

Berapa banyak keluhan orang tua zaman harus menjadikan pembelian paket bagian internet menjadi kebutuhan primer? Berapa banyak uang belanja dapur yang juga akhirnya melenggang untuk memenuhi ananda melunaskan tagihan pembelajaran model daring?, bahkan ada seorang pokok di Tangerang yang harus berhutang kesana kemari hanya untuk mengambil pulsa demi ananda dapat merampungkan tugas dari sekolah, dan tetap masih banyak cerita serupa dengan patut kita renungkan. Inilah gambaran realita dilapangan.

Jika ada guru dengan rela mengantar dan menjemput tugas siswa, itupun hanya cerita klise untuk melengkapi alur tidak meratanya manfaat dari sebuah kebijakan tempat nama pendidikan.

Nyatanya lebih banyak cerita miris guru yang harus berjuang naik turun gunung, naik pohon, bahkan sampai mencari fasilitas free wifi    demi memperoleh stabilnya sinyal. Belum lagi cerita sedih anak yang tidak mendaptkan pendampingan belajar dikarenakan orang tuanya kudu tetap bekerja untuk memenuhi kebuthan konsumtif lainnya.

Klausul tersebut bukan perilaku pesimis atas kondisi yang sedangkan dihadapi, namun cara pandang realistis dalam melihat peristiwa yang terjadi dilapangan.

Akan sangat berbeda jika kita bicara pada sekolah yang berharta pada level menengah keatas, oleh karena itu PJJ seolah akan tidak menjumpai kendala yang berarti. Sekolah pada level ini juga biasanya konsumennya dalam skala ekonomi menengah keatas sehingga PJJ bukanlah hambatan, ditambah lagi sudah membudayanya pembelajaran secara menggunakan fasilitas teknologi.

Namun kondisi riil pada masyarakat pinggiran yang pula masih wilayah kerja Kementerian Pendidikan hendaknya juga menerima akses dengan sama sehingga tidak terjadi miss informasi yang berkaitan dengan kebijaksanaan yang ada.

Berkaca pada perjalanan PJJ sejak pertengahan bulan maret datang juni tahun 2020, pasti akan kita jumpai banyak evaluasi terutama tidak adanya kebijakan yang mampu dijalankan secara komprehnsif oleh segenap lapisan masyarakat. Memang, secara geografis indonesia tidak hanya berada dalam lingkungan perkotaan saja, namun lebih dominan pada wilayah pedesaan.

PJJ Gampang, PJJ Ramah, Mungkinkah?

Jika PJJ era ini menjadi problem oleh sebagian besar masyarakat kita, bukan berguna kita harus pasrah dan menjalankan PJJ ini apa adanya. Dengan kondisi yang ada, hendaknya kita sebagai masyarakat bisa mengambil manfaat dari pelaksanaan PJJ yang sekarang menjadi satu-satunya solusi atas penelaahan yang harus berjalan.

Pertama, jika kita sebagai murid hendaknya memanfaatkan wahana pembelajaran yang sudah disiapkan negeri baik yang disiarkan di televisi maupun media sejenisnya. Selain itu, tagihan tugas hendaknya diselesaikan pas pada waktnya sehingga tidak menambah durasi pemakaian akses jaringan.

Kedua, jika kita sebagai orang tua, berikan pantauan yang intens kepada anak-anak kita agar tidak lengah di melaksanakan PJJ dan tergiur oleh penghilang penat sesaat atas nama game online. Bisa saja anak-anak kita mencari kelengahan kita, namun saat kita memantau aktivitas itu secara intens maka efektivitas pembelajaran akan jauh lebih efektif dan efisien. Selain itu, memberikan pendampingan belajar saat kita dirumah akan mampu meningatkan pemahaman anak kepada materi pembelajaran.

Ketiga, jika kita jadi guru, hendaknya memberikan materi simple namun memberikan kesan mendalam. Dengan jalan apa caranya, optimalkan waktu yang disediakan dan sesuaikan dengan aspek pelajaran pokok. Selain itu berikan semangat peserta didik untuk bereksplorasi melalaikan literasi buku dan bahan referensi lainnya.  

Keempat, jika kita sebagai pengelola sekolah hendaknya memberikan kebebasan kepada guru untuk brekspolorasi langgam pembelajaran efektif. Hal ini dikarenakan gurulah yang langsung berinteraksi maya dengan peserta didk. Guru dengan lebih menguasai efektivitas materi serta pembelajaran. Tentu dengan fungsi dominasi penuh ada pada kebijakan madrasah

Kelima, jika kita sebagai pemangku kebijakan (pemerintah) hendakanya memberikan layanan akses jaringan yang dapat diakses di jam-jam pembelajaran oleh siapapun. Jadi pada jam pembelajaran akses jaringan dapat dimanfaatkan oleh peserta didik. Apakah mungkin dijangkau oleh semua peserta didik yang ada?.

Memang, problem tidak hanya sekedar bagaimana sulit dan mahalnya akses jaringan namun juga tidak dimilikinya perangkat jalan (android, dan sejenisnya) oleh kelompok juga menjadi problem yang harus diatasi. Namun, dipasangnya akses jaringan yang diinisisasi oleh pemerintah Kota Semarang menjadi bukti, bahwa kecendekiaan free akses telah mampu menekan beban kebutuhan pembelian akses jaringan masyarakat.

Pulsa Edukasi, Senyum Anak Jati

Keseriusan pemerintah dalam memberikan layanan pelajaran kepada masyarakat patut kita komentar baik yang berkaitan dengan kebijakan langsung maupun tidak langsung. Kebijakan pemerintah dalam memberi pulsa edukasi (pulsa gratis) untuk masyarakat pendidikan sebagai sarana menyukseskan pelaksanaan penelaahan jarak jauh yang diinisiasi sebab Pusdatin (pusat data dan teknologi informasi) Kementerian Pendidikan dan Kultur akan membawa manfaat besar untuk masyarakat Pendidikan.

Tentu publik berharap subsidi pulsa edukasi ini berkelanjutan jadi ranah pendidikan dengan berbagai kebijakannya akan dapat langsung dirasakan oleh segenap unsur Pendidikan.

Namun kendala dengan ada sudah sepatutnya menjadi bahan evaluasi bersama agar penerima pulsa edukasi ini tepat sasaran dan tidak ada unsur asal memakai. Hal ini perlu menjadi daftar bersama karena masih ditemukan permasalahan, misalnya nomor ganda, nomor yang sudah tidak aktif, dan proby lainnya.

Kesigapan Plt. Kepala Pusdatin Kemdikbud Bapak Hasan Chabibie dalam menuntaskan problem ini patut diapresiasi jadi problem demi problem dapat terpecahkan sehingga nilai manfaat pulsa les untuk pembelajaran dapat bermanfaat untuk masyarakat pendidikan.

Yang menjadi harapan bersama adalah semoga pemberian pulsa edukasi dapat memberikan manfaat langsung jadi pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang saat ini berjalan dapat terlaksana sesuai standar operasional prosedur dengan ada sehingga hak belajar pengikut didik dapat diterima sebagaimana sepantasnya.

Hendaknya.

***

* Penulis Ariyadi, S. Pd. I adalah Guru Pendidikan Pegangan dan Budi Pekerti SMA Agama islam Al Azhar 15 Kalibanteng Semarang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Nusantara terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan tambo hidup singkat beserta Foto muncul dan nomor telepon yang mampu dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini dengan dikirim.