Emoticon Chatting, Penting dalam Pembelajaran DaringÂ

Emoticon Chatting, Penting dalam Pembelajaran DaringÂ

TIMESINDONESIA, MALANG – Sebagai guru, saya pernah merasa tersentuh saat menyimak tayangan webinar yang menampilkan kegiatan belajar siswa dari seluruh daerah sebagai salah satu upaya melahirkan apresiasi   Belajar dari Panti (BDR) di era pandemi covid-19 ini. Sebagai seorang pendidik, saya berusaha belajar memahami dan tetap merasa perlu untuk   turut menyumbangkan buah pikiran program tersebut.

Harapannya, bisa memberikan sebuah pembelajaran untuk kita semua sebagai guru sekaligus orang tua. Mendorong keluarga menjadi lembaga pertama dan utama di dalam memberikan perlindungan kepada anak, jadi akan menghasilkan generasi penerus kaum yang bermartabat, sehat, cerdas, suci, berakhlak mulia, dan cinta negeri air.  

Saat ini kita saksikan bagaimana anak-anak Indonesia yang medium   mengalami perubahan gaya hidup karena adanya dampak global. Anak-anak dihadapkan dengan era digital, terlebih lagi di musin pandemi  covid-19 ini yang semuanya serba online. Keadaan ini tentunya berbeda dengan zaman saya dahulu. Saya menyimpan komputer baru saat saya SMA tahun 1989. Mata pelajaran jinjing di sekolah yang fitur-fitunya sedang sederhana. Seiring berjalannya waktu, jinjing berkembang semakin canggih dengan prosesor yang lebih handal dan memori penyimpanan yang lebih besar serta sekarang ada komputer laptop dengan lebih ringkas bahkan ada komputer dengan layar sentuh.  

Berdasarkan piawai mengajar saat ini, guru & siswa harus berpacu dalam kemajuan teknologi dan segala kebutuhan penggunaan yang mendukung dalam Kegiatan Membiasakan Mengajar (KBM). Pendidik dan pengikut didik harus mengenali dan menghaki banyak model aplikasi agar cara KBM bisa berjalan dengan baik sesuai eranya saat ini. Jaringan internet yang baik sangatlah menolong   bagi keberlangsungan proses membiasakan daring dengan siswa sehingga mereka dapat belajar kapan saja sebab sumber mana saja di mana saja dengan lancar.

Mungkin guru serta anak sekolah zaman dulu tidak dapat membanyangkan keadaan guru serta anak sekolah zaman sekarang. Anak-anak zaman dulu   menggunakan tempat tinggal tulis kayu dan kapur buat menulis, sedangkan anak zaman saat ini menggunakan komputer dan Hand Phone (HP) untuk menulis. Dunia pendidikan harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.  

Keniscayaan Era virtual

Ketika sistem penelaahan dilakukan secara daring guru serta murid tidak bisa lagi bertatap muka dan berinteraksi di mulia ruang yang sama. Ada sesuatu yang hilang yaitu ikatan emosional yang tidak akan mungkin tergantikan oleh komunikasi secara virtual. Tutor itu tidak bisa digantikan sebab platform-platform pendidikan seperti Ruang Kiai, Rumah Belajar, atau fasilitas youtube maupun AZ Screen Recorder atau apapun itu. Penggunaan aplikasi laksana Zoom, Google Meet, atau Google Classroom mungkin bisa dilaksanakan hanya untuk mengobati rindu kebersamaan saja.

Idealisme saya sebagai guru ingin memberikan materi kepada siswa sesuai kala saat ini dengan banyak praktik yang sudah disiapkan, tetapi masih terganjal kondisi di lapangan. Pengalaman menangani siswa secara langsung masa mengalami kendala Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berdampak luar biasa untuk saya sebagai guru.  

Setelah mendengar langsung kondisi anak didik, aku yang awalnya idealis dan menuntut siswa-siswi dalam mengikuti pembelajaran daring, kini mulai bisa memahami laksana. Hati merasa tersentuh melihat peristiwa siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu, namun dipaksa kudu bisa mengikuti sistem yang sulit dijangkau. Saya terharu melihat tanda seperti ini mereka belum mampu dipaksa untuk memenuhi idealisme kita yang secara teoritis ingin seluruh Kompetensi Dasar dan Kompetensi Pokok terpenuhi. Ketika sampai pada kalimat inipun air mata saya mengalir.  

Akhirnya sekarang apa yang mampu saya ajarkan saya ajarkan, dengan mereka belum mampu akan dikasih materi dan tugas melalui luring. Masalah nilai, itu hanya hingga nilai, yang penting saya bisa membekali mereka dengan kecakapan serta berusaha menanamkan karakter yang bagus baik itu religius, cinta kejernihan dan lingkungan, jujur, peduli & nasionalis yang mereka mulai dari rumah bersama pengampu dan ahli.  

Emoticon yang Memotivasi Siswa

Pemberian pujian dan mengirimkan emoticon yang memotivasi siswa dalam menuntaskan tugas atau mengikuti materi daring pada chatting di WhatsApp atau google classroom selalu saya sertakan. Hasilnya luar biasa, respon meyakinkan dari siswa yang semula belum mengerjakan dan belum mengumpulkan mereka berbondong-bondong mengirim tugas-tugas tagihannya.

Hal tersebut mungkin sepele ketika kita alpa menulis karena banyaknya pekerjaan merekap dan mengoreksi hasil belajar anak tapi dampaknya luar biasa. Anak menjadi aktif kembali, semangat sedang dan ini mendongkrak capaian pengumpulan tugas seperti yang kita harapkan.  

“Pemberian pujian ini dapat menghasilkan fokus yang lebih besar, itu didukung oleh sains, ” cakap Dr. Neha Chaudhary Ia seorang psikiater anak dan remaja dalam Rumah Sakit Umum Messachusetts dan Sekolah Kedokteran Harvard dan satu diantara pendiri Brainstorm, Lab Stanford untuk Inovasi Kesehatan Mental.

Ketika anak menerima pujian, hal itu mengaktifkan senyawa kimiawi terkait perasaan baik tertentu di otak. Senyawa kimiawi itu dapat meningkatkan fungsi di bagian otak yang bertanggung jawab untuk hal-hal seperti fokus, perhatian, perencanaan dan pemecahan masalah.

Untuk itu jangan lupa memberikan pujian maupun emoticon positif kepada siswa-siswi kita ketika melaksanakan proses pembelajarn baik itu daring maupun luring.  

***

*)Oleh. Ida Wahyuni,   Mahasiswa Program Doktor ISIPOL, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan  Kiai IPA SMP Negeri 10 Malang.

*) Karya Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Model TIMES atau rubrik opini dalam TIMES Indonesia terbuka untuk ijmal. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 sirih. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Sidang pengarang berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.