Efek Sensitisasi, Karpet Merah Masuknya Virus Pasca Vaksinasi Covid-19

Efek Sensitisasi, Karpet Merah Masuknya Virus Pasca Vaksinasi Covid-19

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Beberapa kalangan masyarakat mengeluhkan lebih rentan flu pasca vaksinasi Covid-19. Mengapa sesuatu ini bisa terjadi?

Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekular Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Chairul Anwar Nidom mengungkapkan, hal tersebut dinamakan sebagai sensitisasi yang  bisa timbul dari efek setelah vaksinasi.

Kendati demikian, Prof Nidom menjabarkan terkadang belum banyak riset yg membahas efek sensitisasi sesudah vaksinasi.

Namun kasus yang ada yakni vaksinasi polio terhadap efek sensitisasi. Efek yang timbul dari orang yang sudah vaksin terhadap infeksi ulang dari virus sejenis atau virus lain.

“Jadi seperti diberi karpet merah untuk masuknya virus-virus yg sejenis dengan vaksin atau yang berbeda, ” jelasnya, Minggu (25/7/2021).  

Tapi sejauh ini, lanjutnya,   riset terhadap sensisitisasi setelah vaksin Covid-19 belum wujud atau belum banyak.

“Arti belum ada atau belum banyak bukan berarti bukan ada. Tapi melihat fenomena yang ada akhir-akhir terkait, maka patut dicermati dari efek ini terhadap orang terinfeksi ulang padahal keseluruhan sudah serba ketat serta disiplin (prokes), ” beber Prof Nidom.  

Prof Nidom melalui Yayasan Professor Nidom Foundation (PNF) juga tengah melakukan penelitian terhadap individu yang telah menjalani vaksinasi namun masih terpapar Covid-19.  

Hasil penelitian sementara secara umum menyebutkan tiga spesifikasi. Pertama, kelompok yang mempunyai antibodi tapi tidak memiliki proteksi. Kedua, kelompok  yang mempunyai antibodi dan mempunyai proteksi. Ketiga, kelompok yang memiliki antibodi dan tidak mempunyai daya proteksi.

Kasus yang paling menonjol adalah banyaknya tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 dengan mortalitas tinggi meski sudah menjalani vaksinasi lalu menerapkan protokol kesehatan sebagaiselaku, ala, menurut, ketat.

“Ini sebagian besar dari para nakes, yg saya percaya bahwa mereka sangat paham terhadap prokes. Kita lihat saja jumlah para nakes yang meninggal dan yang isoman di rumah, jumlah kefatalannya tidak lebih kecil atau ringan, ” urainya.  

Oleh kata lain, jelas Prof Nidom, meskipun sudah divaksin, sama dengan tidak divaksin. Artinya masih memiliki risiko yang sama. Oleh karena itu, Prof Nidom berharap seharusnya pemerintah segera mengevaluasi dulu dan menghentikan program vaksinasi untuk beberapa waktu.

“Setelah diketahui yang harus diperbaiki, baru digas pol lagi vaksinasinya, ” ujarnya.  

Prof Nidom berharap kasus pasca vaksinasi Covid-19  ini bisa menjadi pembelajaran lebih baik lagi untuk masyarakat dan tidak perlu panik.   “Masyarakat bukan perlu terlalu panik, masih ada empon-empon dan prokes selain vaksin, ” ucap Prof Nidom. (*)