Dongeng Mentor Program YESS: Daya Kopi Taji yang Menjanjikan

Dongeng Mentor Program YESS: Daya Kopi Taji yang Menjanjikan

TIMESINDONESIA, MALANG – Berawal dari Agenda Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP), saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) bersama International Fund For Agriculture (IFAD) memiliki upaya strategis untuk menjawab tantangan regenerasi petani di Indonesia melalui Agenda YESS (Youth Enterpreneurship and Employment Support Services). Selama tahun 2019-2025 diharapkan sebesar 320. 000 orang/rumah nikah   memperoleh layanan atau yang didukung oleh Rencana YESS.

Pada pelaksanaannya, Program YESS melibatkan berbagai pihak pendukung kegiatan di daerah seperti mobilizer, fasilitator dan mentor. Salah satunya merupakan M Sukron, mentor Rencana YESS asal Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Geruh. Pemuda berusia 25 tarikh ini merupakan owner Kopi Taji sekaligus pemuda pemrakarsa yang memiliki kemauan & harapan yang besar mau kemajuan pertanian.

“Awalnya kami itu suka bantu-bantu bapak di kebun kopi tiba dari tahun 2014, waktu itu saya juga sedang kerja di luar kota. Tapi saya lama-lama kepikiran ingin menekuni dunia contoh, sampai akhirnya saya menetapkan untuk resign dari kongsi itu dan merawat parak seluas 1 Ha, ” tuturnya beberapa waktu berarakan.

Sejak saat itu Sukron mulai tertarik mendalami kopi, sampai pada 2016 ia mulai belajar proses pengetaman dan kemudian masuk ke komunitas kopi hingga rajin mengikuti kegiatan pamera. Di kegiatan itu, Sukron mendapat juara 3 cita mengecap kopi se-Jawa Timur. Berbekal pengalaman tersebut, di kausa 2019 ia memulai usaha kedai Kopi Taji dengan ia kelola sendiri secara mempromosikan usahanya lewat masyarakat di media sosial.

M Sukron, mentor Program YESS pantas menyiapkan kopi taji untuk pengunjung di kedainya. (FOTO: Humas Polbangtan Malang)

“Dulu awalnya kedai buka setiap hari sabtu dan minggu saja sebab senin sampai jumat kami harus di kebun buat merawat kopi. Tapi dalam pertengahan tahun alhamdulillah tamu semakin ramai akhirnya aku memutuskan buka kedai di setiap hari, ” ujarnya.

Selain merawat kebun dan merintis usaha kedainya, Sukron selalu mulai membuka paket edu wisata kopi dengan ongkos Rp75 ribu per-orang. Had kini Kopi Taji sudah cukup dikenal di kalangan pecinta kopi bahkan tidak sedikit pengunjungnya dari kalangan wisatawan mancanegara. Bahkan untuk omzet usahanya mampu mencapai Rp30 juta per kamar. Sukron sendiri mengaku suka karena impiannya untuk menetapkan nama dan perekonomian desanya terwujud.  

Sukron mau desanya dikenal salah satunya melalui kopi. Untuk tersebut ia memilih ikut membakar petani kopi dengan menjual bibit kopi sekitar tempat dan dibayar saat telah panen.  

“Karena beta tau gimana sulitnya cari bibit kopi, ” ucapnya. “Karyawan di sini pula semuanya dari pemuda daerah sekitar, ada 10 orang, ” sambungnya.

Berkat kemampuannya, saat ini Sukron terpilih 1 dari 5 mentor Program YESS di Kabupaten Malang. Sukron juga berharap dengan keterlibatannya dalam Agenda YESS mampu mendukung pengembangan usaha sekaligus sebagai pertolongan konsultasi untuk penerima manfaat program secara reguler khususnya di komoditas kopi. Sepadan dengan tujuan pengadaan jasa mentoring oleh Provincial Project Implementation Team (PPIU) Jawa Timur bahwa mentor diharapkan dapat mendampingi, mendukung pengembangan usaha dan memotivasi generasi muda akan dunia pertanian.  

Mentan SYL memajukan petani-petani muda untuk bergairah dan memiliki kreativitas menganalogikan sektor pertanian sehingga memanifestasikan produk siap pakai. Tak hanya itu, petani milenial yang agresif dalam negeri pertanian juga akan disupport oleh jajaran pemerintah.  

Indonesia merupakan negara luhur yang memiliki sumberdaya daerah (SDA) dan sumberdaya bani adam (SDM) yang baik serta melimpah. “Kementan sendiri sudah menetapkan arah kebijakan pendirian pertanian, yaitu pertanian maju, mandiri, dan modern yang menjadi pedoman untuk berlaku cerdas, tepat, dan cepat, termasuk dalam mencetak regenerasi pertanian, ” katanya.  

Senada dengan Mentan SYL, Kepala Badan Penyuluhan serta Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mengucapkan, petani harus mengetahui cara pertanian dari hulu sampai ke hilir. “Petani harus mengetahui proses dari menggodok lahan sampai packaging, makin penjualan. Hal ini hendak menjadi nilai lebih untuk petani, ” ujar Dedi. (*)