Dengan jalan apa Mahasiswa Pendidikan Melihat Masa Pendahuluan Profesi Guru

Dengan jalan apa Mahasiswa Pendidikan Melihat Masa Pendahuluan Profesi Guru

TIMESINDONESIA, MALANG – Seingat penulis, ketika guru menanyakan peristiwa apa cita-cita penulis dan teman-teman ketika masih duduk di amben Sekolah Menengah Pertama, tidak tersedia satupun yang menjadikan guru jadi cita-cita kami. Tanpa protes biar guru saya selalu mengamini di setiap profesi yang dicita-citakan oleh muridnya itu. Di rumah pun serupa demikian “ besok jika telah besar cita-citamu jadi apa nak? ” Kalau gak dokter ya pilot, kalau gak tentara ya polisi.  

Empat tahun kemudian tepatnya setelah penulis secara alam lembah sadar diterima di jurusan pelajaran di suatu universitas di Jawa timur, penulis selalu dihantui secara pertanyaan kenapa guru sebagai pekerjaan tidak digandrungi oleh sebagian gede pelajar di Indonesia.

Sebagai mahasiswa pelajaran semester akhir, Iseng-iseng saya coba bedah kasus yang sebenarnya telah karatan di negeri tercinta ini ke dalam empat musabab.

Mari kita lihat….  

Pertama; ketika sekolah, mereka memiliki pengalaman duduk sekelas dengan teman yang sering menggunjing & mengisengi gurunya atau bahkan mereka sendiri yang melakukannya sehingga barang apa yang ada dibenaknya tentang profesi guru adalah kesengsaraan ketika berhadapan dengan murid-murid yang “unik”.

Kedua; profesi guru bukanlah profesi yang elit dan berkelas seperti halnya sinse dengan jas putihnya dan tantara dengan senapannya. Belum lagi dengan adegan di film-film, sinetron dan berita di tv yang mengilustrasikan seorang guru dengan sepeda pedalnya yang karatan, seorang guru dengan keriput dengan seragam lusuhnya, seorang guru yang menjadi korban bully siswa-siswanya hingga tak ada wibawa sering kali menjadi tontonan anak-anak Indonesia di televisi sehingga secara sadar mereka membuat kesimpulan sedemikian rupa sampai hati tak sedia jadi guru.  

Sebelum lanjut, penulis sekaligus ingin sekali tulisan itu dibaca oleh pembawa berita & para sutradara agar lebih menyerahkan karpet merah   untuk kedudukan guru dalam karya mereka.

Kita tinggi ya, ketiga; dokrin orang tua. Wali pasti menginginkan anaknya menjelma manusia mulia ketika dewasa nanti. Guru adalah salah satu pekerjaan mulia. Secara logika, seharusnya banyak orang tua ingin anaknya menjadi guru, atau sebagian besar anak-anak Indonesia yang rajin belajar bercita-cita menjadi guru. Tetapi logika itu tidak berlaku di ranah pelajaran.  

Sebagian besar pengampu mungkin menginginkan anaknya untuk menjadi “guru kehidupan”, bukan guru dalam arti profesi seperti yang dijelaskan oleh peraturan Nomor 14 tahun 2005. Pekerjaan guru masih dianggap sebelah sembrono oleh orang tua yang berpandangan kolot. Mereka menganggap pekerjaan menjadi guru kurang menghasilkan, harus oleh karena itu PNS terlebih dahulu untuk mendapatkan gaji layak sebagai guru, & hanya pantas bagi mereka dengan tak mendapatkan pekerjaan lainnya barangkali karena beberapa proses rekrutmen instruktur terutama di daerah tertinggal hanya didasarkan pada ‘siapa yang bersedia’ bukan berdasarkan pada kompetensi.

Padahal, para-para orang tua semestinya berperan pada mem-branding profesi guru sehingga anak-anak turut ta’dzim dan memuliakan pekerjaan guru bukan malah menjelek-jelekkan, menantang dan melaporkan guru ketika anaknya ditegur dan dimarahi karena kesalahannya seperti yang sering kita membaca dan tonton di media periode.

Musabab terakhir adalah tentang konstruksi umum Indonesia. Kita bersekolah agar menjelma orang sukses. Dalam konstruksi masyarakat, kita selalu mengaitkan definisi lulus dengan suatu pekerjaan yang prestisius dan menghasilkan banyak materi.

“Jangan oleh karena itu guru, jadi dosen saja” memotong ayah penulis di suatu dialog. Penulis jadi berpikir keras bahwa benarkan profesi guru telah kehilangan prestis dimata para orang usang dan siswa berprestasi. Sekilas, tidak ada yang membedakan profesi sebagai guru dan dosen selain pengikut yang diajar. Tapi entah kok, saya melihat adanya sekat dengan begitu tebal yang membedakan seorang guru dan dosen.

Lagi-lagi, adanya konstruksi masyarakat yang beranggapan bahwa pengajar lebih berkelas karena mengajar mahasiswa sedangkan guru hanyalah pengajar anak ditambah lagi seleksi untuk menjelma dosen lebih ketat dari dalam guru. Dosen dianggap memiliki lambang kecerdasan seperti halnya tantara dan polisi dengan lambang kegagahannya, dokter dengan lambang prestisnya. Guru tak diminati karena tidak lagi dianggap sebagai lambang intelektual, padahal guru adalah garda terdepan dalam mencetak generasi-generasi intelektual bagi masa ajaran yang perannya sangat krusial.      

Setelah membedah kasus tersebut, saya merasa pesimistis dengan kala depan pendidikan kita kalau fenomena-fenomena di atas tetap dibiarkan. Seyogyanya kita bahu-membahu mengembalikan marwah profesi guru sesuai dengan kapasitas diri masing-masing. kepada pemerintah, inilah saatnya untuk mempraktikkan apa yang diterapkan oleh negara maju dalam memuliakan profesi guru secara moril serta kesejahteraan seperti Jepang, Jerman & Finlandia.

Karpet merah benar-benar harus cepat dihamparkan kepada guru agar bangsa dan anak-anak Indonesia bisa tahu cahaya terang dalam sosok seorang guru sehingga anak-anak cerdas tak melulu bercita-cita menjadi seorang dokter, pilot dosen dan lain sebagainya tetapi juga guru agar pos-pos intelektual yang menjadi kunci era depan anak-anak sekolah diisi oleh pelajar-pelajar brilian yang secara berputar akan mencetak generasi-generasi unggul berikutnya.

“Guru adalah pelayan publik terbesar kita; mereka menghabiskan hidup mereka untuk pendidikan generasi muda kita & membentuk bangsa kita untuk keadaan esok” – Salomon Ortiz.  

***

*) Oleh:   Iqbal Rocki Ulhaq, mahasiswa Universitas Brawijaya, relawan mengajar dan aktivis BEM.  

*) Karya Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Jiplakan TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 prawacana. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Sidang pengarang berhak tidak menayangkan opini dengan dikirim.