Berjuang Bersama Menghadapi Era New Normal

Berjuang Bersama Menghadapi Era New Normal

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Sejak 1 Juni lalu 2020 wacana ‘berdamai’ atau dikenal dengan kehidupan baru Era New Normal mulai diberlakukan di Indonesia. Daftar-daftar daerah yang terpilih oleh pemerintah untuk memberlakukan dengan harapan memulihkan keadaan perekonomian juga telah berjalan. Dengan syarat mematuhi seluruh peraturan yang tertera dalam protokol kesehatan.

Segala sesuatu sudah disiapkan dengan lebih matang dengan menimang kemungkinan abc hingga z. Tentu dengan adanya pemberlakuan baru ini masyarakat yang telah kebosanan menghadapi situasi dirumah saja tidak dapat memungkiri kebungahan dalam hatinya. Terhitung tiga bulan semenjak anjuran dirumah saja ditegakkan kini masyarakat bisa sedikit bebas beraktivitas kembali seperti sedia kala namun tetap dengan aturan yang berlaku.  

Ada keputusan tentunya ada konsekuensi yang harus diterima. Selagi diberlakukannya New Normal, Pemerintah semakin gencar meelakukan pelayanan rapid test dan swap secara massal diberlakukan untuk tindakan pencegahan persebaran luas virus covid-19 di seluruh daerah di Indonesia.

Hal ini akhirnya sebanding apabila dengan berbagai pemberitaan oleh media dimana hari demi hari kasus positif yang terkuak semakin melonjak, sebab kebenaran yang ada ditengah masyarakat perlahan mulai terlihat. Disisi lain, keinginan pemerintah agar masyarakat kembali produktif memang terkabulkan. Jika dirumah saja membuat masyarakat meniti karir menjadi content creator di media sosial. Dengan diperbolehkannya untuk keluar rumah kini masyarakat beralih menjadi atlet sepeda kayuh. Harapannya agar badan menjadi semakin bugar sembari   menikmati udara segar.

Memasuki Era New Normal, berarti tercipta budaya baru yang tercipta diantara masyarakat. New Normal mengharuskan masyarakat untuk berpergian dengan menggunakan masker, saling menjaga jarak satu meter antara satu orang dengan yang lainnya, rajin untuk mencuci tangan, dan yang paling penting adalah menghindari perkumpulan.

Padahal masyarakat Indonesia itu sangat identik dengan budaya berkumpul sampai-sampai ada pepatah yang mengatakan “mangan ora mangan, sing penting kumpul”. Dimana maksudnya adalah masyarakat mau merasakan tidak bisa makan tapi mereka enggan jika tidak bisa berkumpul baik dengan keluarga, saudara maupun teman.  

Oleh dengan adanya keadaan New Normal, pada fakta yang terjadi di lapangan banyak masyarakat yang beranggapan bahwa covid-19 ini telah berhasil ditaklukkan atau bahkan dianggap hilang untuk itu mereka bisa beraktivitas seperti biasa.

Anggapan ini tentunya sangat berbahaya apabila masyarakat lupa akan protokol kesehatan yang telah dibuat dengan sedemikian rupa. Padahal belum ada satupun lembaga kesehatan resmi yang mengumumkan bahwa virus ini telah memiliki penangkal. Hal lain yang bisa ditemukan adalah masyarakat sudah berani untuk nongkrong atau berkumpul bersama dengan teman-temannya baik di coffee shop atau pinggir-pinggir jalan dengan asumsi melepas rindu yang telah lama tertahan.  

Beberapa tempat wisata di berbagai daerah yang telah dibuka juga mulai ramai atas kunjungan masyarakat. Hal yang unik adalah, masyarakat sekitar daerah wisata justru merasa takut dengan tamu-tamu yang mulai berdatangan mengunjungi tempat wisata di daerah tersebut.

Pengunjung yang berdatangan tanpa mengetahui daerah mana ia berasal itulah yang membuat masyarakat sekitar ketar-ketir. Mungkin saja ia berasal dari daerah yang berada di zona merah, atau bisa saja pengunjung tersebut yang telah melakuan riwayat kontak dengan banyak orang tanpa diketahui orang yang ditemuinya juga melakukan kontak dengan orang lainnya. Hal-hal seperti itulah yang membuat keresahan tersendiri di hati masyarakat.

Pada akhirnya, New Normal memberikan banyak persepsi pro kontra di masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang menerima dengan senang hati karena bisa menjalani aktivitas normal. Pun sebagian lagi masih tidak ingin dengan adanya New Normal justru memberikan jejak baru covid-19 itu bermunculan.

Padahal alasan pemerintah dari awal dalam diberlakukannya New Normal adalah untuk tetap mempertahankan kondisi ekonomi agar tidak semakin terpuruk. Bukan membuka kesempatan untuk virus covid-19 semakin leluasa menguasai masyarakat. Sebab segala tindakan preventif yang telah dilakukan oleh pemerintah tidak lain juga hanya demi kebaikan masyarakat. Namun hal ini akan tetap sia-sia apabila antara negara dan masyarakat tidak memiliki satu tujuan.

Keduanya harus saling andil bahu membahu dan sama-sama berjuang agar penyebaran covid-19 tidak semakin luas. New Normal bukan berarti bisa melakukan rekreasi sepuasnya. New Normal bukan berarti covid-19 telah lenyap.

New Normal juga bukan berarti kita bisa terbebas dari covid-19. Justru dengan adanya New Normal, masyarakat dituntut untuk menciptakan kebiasaan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Membiasakan diri untuk tidak melakukan perkumpulan atau sebisa mungkin menghindari dari perkumpulan dengan orang banyak. Membiasakan diri untuk menjaga jarak dalam kerumunan. Membiasakan diri untuk tidak egois memikirkan diri sendiri. Serta memanfaatkan situasi yang ada untuk tetap produktif tanpa harus merugikan orang lain hanya demi kepentingan pribadi.

***

*)Oleh: Ghardina Nike Nur Fadlilah, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia.

*)  Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.