Akankah New Normal Menjadi Transformasi Baik dalam Tatanan Bermasyarakat di Nusantara

 Akankah New Normal Menjadi Transformasi Baik dalam Tatanan Bermasyarakat di Nusantara

TIMESINDONESIA, TANGERANG – Protokol New Normal yang telah diterbitkan pemerintah khususnya bagi dunia industri dan perkantoran dalam menghadapi virus corona tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK. 01. 07/MENKES /328/2020 yang berisi tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Virus Corona di dunia kerja.

Melalui sederet susunan yang disusun pemerintah, sebagai tujuan keikutsertaan dalam upaya melakukan percepatan penanggulangan wabah virus corona dengan menyebar hampir di seluruh wilayah di Indonesia.

Pemerintah membutuhkan strategi dengan lebih sesuai dengan kondisi intern dan ekstern saat ini, secara tujuan dapat membangun masyarakat menuju High Perfomance Culture di jaman modern dengan kemajuan teknologi masa ini.

Hal tersebut di atas melahirkan kebijakan pemimpin dalam mengamankan serta mengarahkan berdasarkan wewenang yang dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut.  

Adapun contoh beberapa aturan baru dengan diberlakukan pemerintah antara lain merupakan sebagai berikut  :
1.       Pelarangan aliran mudik lebaran tahun 1441 H atau tahun 2020 dan imbauan selaturahmi dengan menggunakan media On-line
2.       Work From Home (WFH), pengaturan bekerja dari rumah
3.       Physical Distansing dalam semua aktivitas kerja, penyerasian jarak antara pekerja dengan pekerja yang lain minimal 1 meter pada setiap aktifitas kerja
4.       Hindari penggunaan alat pribadi secara bergandengan (bergantian) seperti perangkat alat sholat, peralatan makan dan lainnya
5.       Mengkampanyekan gerakan hidup sehat, pola tumbuh sehat, perilaku hidup bersih serta sehat di tempat kerja

Kita bersama-sama dapat mencermati dampak wabah pandemi Covid-19 ini dari sisi kesibukan bermasyarakat di Indonesia, disadari maupun tidak disadari aturan pemerintah tang diterapkan tersebut lambat laun berpotensi mengikis perilaku dalam tatanan kesibukan bermasyarakat di Indonesia dan menerbitkan perubahan kehidupan bermasyarakat dan membuahkan perubahan budaya adat ketimuran dengan telah mengakar dan mendarah keturunan di dalam kehidupan bermasyarakat di Nusantara.  

Budaya silaturahim yang telah dekat di tengah kehidupan bermasyarakat selalu terkena imbas dari pedoman New Normal yang dikeluarkan oleh negeri.

Situasi tersebut teramati pada saat lebaran terjadi gelombang arus mudik ke seluruh wilayan di Indonesia buat menjalin tali silaturahmi terutama dengan orang tua dan sanak saudara maupun handai taulan, juga di peringatan hari besar umat nasrani yang juga diperingati setiap tahunnya

Menurut Stonereta (1995), mendefinisikan budaya sebagai kompleks atas asumsi tingkah laku, metos metafora dan berbagai inisiatif lain yang menjadi satu memastikan apa arti menjadi anggota kelompok tertentu.

Budaya santun dan saling menghormati dalam bermasyarakat yang diajarkan untuk kita sebagai makhluk sosial serupa terkena dampak diberlakukannya aturan New Normal.  

Tatanan hidup bermasyarakat yang sudah membudaya dan mengakar pertama bagi masyarakat yang tinggal pada pedesaan, saat ini harus mendaftarkan aturan kesehatan dengan menjaga jangka minimal 1 meter untuk mencegah terpaparnya virus corona.

Kebiasaan menjenguk ahli atau kerabat yang sedang sakit, takziah ketika ada yang meninggal, kerja bakti gotong royong positif memperbaiki tempat ibadah, kediaman tetangga yang rusak, membersihkan lingkungan kira-kira, tata cara yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat di sebagian besar wilayah di Indonesia dan telah menjadi aturan yang tersirat meskipun tidak tersurat juga terdampak secara aturan protokol New Normal, karena untuk saat ini hingga ditentukan dikemudian hari, tidak disarankan melangsungkan kegiatan-kegiatan tersebut dengan alasan melindungi penyebaran virus corona.

Dulu sebelum tersebarnya virus corona di Indonesia, tersedia kesempatan beranjangsana memperarat tali persaudaraan, melepas rindu, bernostalgia, berbagi piawai baik dengan sahabat, saudara, tetangga. Tidak untuk saat ini makin posisi kita agar aman lantaran paparan virus corona harus melindungi jarak. Peribahasa mengatakan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, nama tersebut tidak berlaku ketika masa pandemi virus Covid-19, ada pembatasan untuk berkumpul ataupun bergerombol guna mencegah penyebaran Covid-19.

Tatanan bermasyarakat di Indonesia sebagai warisan budaya tinggalan nenek moyang yang telah menciptakan atmosfer masyarakat yang kondusif, di dalam nuansa kekeluragaan menjadi kekayaan adat berbasis kearifan lokal bagi bani Indonesia yang dapat kita turunkan kepada anak cucu-cucu kita juga tidak berlaku selama masa pandemi virus Covid-19

Kembali menanjaknya penyebaran Covid-19 di Indonesia, memberikan sinyal bahwa fakta sebenarnya berbulan-bulan ke ajaran atau bisa bertahun-tahun ke depan kemungkinan kita harus hidup bersaing dengan virus corona, oleh pokok itu marilah kita belajar berbudi menyikapi kenyataan ini.

Menurut Dr. Faheem Younus the AZB. com (Kepala klinik penyakit menular Universitas Maryland Amerika Serikat), poin penting dengan dapat dilakukan untuk mencegah virus corona adalah sebagai berikut  :
1.       Mencuci tangan dan merawat mengikuti menjaga jarak fisik dua meter adalah metode terbaik untuk pelestarian diri
2.       Mengenakan masker untuk masa yang lama mengganggu pernafasan & kadar oksigen anda, jadi kedok dipakai hanya saat keluar vila ditengah orang banyak.
3.       Mengenakan menyarung tangan juga merupakan ide dengan buruk, virus dapat terakumulasi di dalam sarung tangan dan semoga ditularkan, lebih baik cuci tangan saja secara teratur.
4.       Jika anda tidak memiliki pasien Covid-19 dalam rumah, tidak perlu mendisinfeksi permukaan di rumah anda
5.       Kekebalan tubuh akan sangat lemah dengan selalu tinggal di lingkungan yang murni, apalagi mengkonsumsi makanan penambah kekuatan (jahe, jus tebu, cuka) kekebalan ditingkatkan oleh sambungan ke bakteri, bukan dengan duduk di rumah dan mengonsumsi makanan yang digoreng/pedas/manis.

Kita tidak dapat menghancurkan virus corona yang telah mampu menembus dinding sel walaupan banyak minum tirta hangat yang hanya akan lebih sering ke kamar mandi.  

Implementasi dari tatanan New Normal yang mencegah besarnya mobilitas dan interaksi penduduk dalam aktivitas berkerja tanpa sampai berlaku seterusnya, sehingga salam “Bahtera Guru Seroja” (Bahagia Sejahtera Gurub Rukun Sehat Rohani serta Jasmani) tetap bergaung dalam tumbuh bermasyarakat di Indonesia.

***

*)  Oleh: Estiningsih Tri Handayani,   Dosen Universitas Pamulang (UNPAM).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terkuak untuk umum. Panjang naskah suntuk 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat tumbuh singkat beserta Foto diri & nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Redaksi berhak tidak menatangkan opini yang dikirim.