“Mempersenjatai” Anak Melawan Covid-19

“Mempersenjatai” Anak Melawan Covid-19

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Satu-dua hal di hidup kita telah berubah sejak negeri kita kedatangan pandemi covid-19. Namun, sungguh-sungguh egois apabila kita, para orang dewasa, hanya merasa hidup kita sajalah yang terdampak. Sebab faktanya, anak-anak di hampir seluruh negeri juga sedang ikut terombang-ambing pada kapal yang sama dengan kita.

Menurut Paul Ramchandani, psikiater anak serta remaja yang berbasis di Inggris, setidaknya ada tiga efek pandemi ini bagi anak-anak, selain intimidasi terinfeksi tentunya. Pertama, stres & depresi yang dialami anggota rumpun dampaknya bisa besar terhadap kesehatan mental si anak. Kedua, terpenjara dalam rumah juga membuat itu rentan mengalami kekerasan domestik. Terakhir, melesunya sektor ekonomi diprediksi akan memengaruhi kesehatan dan kesempatan lahir kembang anak di kemudian keadaan.

Di dalam tulisannya di majalah New Scientist edisi 11 April 2020, profesor pertama di dunia di bidang bermain (play) itu menjelaskan kalau efek krisis ini sangat mungkin kian membesar pada beberapa bulan atau tahun mendatang. Mitigasinya betul bergantung dengan kemampuan kita menjemput keputusan atau kebijakan yang benar serta turun tangan memberikan kontribusi yang kita bisa.

Merespons fenomena ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sendiri telah mendorong agar dunia turut proaktif untuk menjaga anak-anak selama kita berperang melawan Covid-19. Kontribusi itu dapat ditunjukkan dengan menjadi tauladan dalam membiasakan hidup bersih dan sehat, melakukan perlindungan penggunaan teknologi dan mengonsumsi fakta secara sehat, sampai memberikan atau menularkan kebahagiaan.

Menyoal secara spesifik kegiatan menularkan kebahagiaan pada anak, berlaku dan berhumor bisa menjadi “senjata” untuk dibekalkan kepada mereka semasa krisis ini. Argumentasi Doris Bergen dalam artikel ilmiahnya bertajuk Young Children’s Play and Humor Development: A Close Theoretical Partnership (2019) tak main-main. Selain bisa membawa senyum maupun kegembiraan, keduanya merupakan mitra penting bagi evolusi jiwa anak.

Manfaat bermain bagi tumbuh sari anak sendiri sudah mulai dipopulerkan sejak abad ke-19. Seperti halnya hewan, manusia perlu bermain buat kepentingan adaptasi, yakni sebagai jalan untuk mengekspresikan diri, menyalurkan energi yang berlebih, serta mendapatkan kepuasan. Yang belum banyak diketahui, bermain adalah karakteristik biologis dan neurobiologis manusia yang sejatinya tidak bakal berhenti di tahap anak-anak sekadar, tetapi tetap lestari hingga kita menua.

Sementara itu, berhumor turut mendukung manusia dalam berevolusi, karena kecakapan membuat dan mengonsumsi humor pula bagian dari proses perkembangan biologis dan kognitif. Bentuk tersederhana dibanding humor, macam plesetan kata, sekalipun membutuhkan kemampuan berbahasa dan mengolah konsep-konsep abstrak dalam kepala.  

Sejak sinilah konsep Homo Ludens–yang dicetuskan pertama oleh filsuf Belanda Johan Huizinga pada tahun 1938–muncul. Ya, kita-kita ini pada dasarnya ialah makhluk yang kapabel untuk bermain, seperti halnya dalam berpikir (Homo Sapiens) dan bekerja (Homo Faber). Maka dari itu, menjadi Homo Ludens akan melengkapi kepingan kita menjadi manusia yang utuh.

Lantas, dengan jalan apa bermain dan berhumor bisa membantu?

Sedang mengutip Bergen, ada beberapa tiruan praktis bagi orang dewasa buat secara aktif berkontribusi mengajak anak-anak bermain dan berhumor. Misalnya, kita bisa ikut terlibat atau ikut membentuk skenario role-play yang si anak sukai.  

Ambil contoh skenarionya adalah suatu perjamuan teh. Seriuslah dalam berpura-pura mengunyah dengan lahap kue-kue imajiner yang mereka sajikan di meja mainan imutnya. Semrawut minumlah teh di dalam kaca plastik mainan mereka, lengkap secara adegan meniup-niupnya karena masih panas.

Kita bisa lanjutkan juga dengan melempar tebak-tebakan sederhana atau menjawab secara konyol tebak-tebakan remeh yang mereka ajukan. Kita pun perlu menunjukkan bahwa kita menginvestasikan perhatian serta empati dengan mengajak bernyanyi, bertepuk tangan, atau bentuk-bentuk interaksi lain yang bisa dilakukan bersama-sama saat mereka sedang bosan atau muram.

Intinya, dengan menjadi inisiator sekaligus responden dalam bermain dan berhumor, kita bisa menghadirkan rasa nyaman di anak. Kita pun telah berusaha mewariskan dua kemampuan atau konvensi penting untuk beradaptasi dengan tahapan-tahapan hidup yang lebih kompleks kelak.  

“Permisi, boleh minta kue dan tehnya lagi, nyonya? ”

***

*)  Oleh: Ulwan Fakhri N., S. S., M. Ikom – Peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3).

*)  Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Kopi TIMES ataupun rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke petunjuk e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tak menayangkan opini yang dikirim semasa tidak sesuai dengan kaidah & filosofi TIMES Indonesia.