2. 500 KPM PKH Kabupaten Probolinggo Mundur, Tertinggi di Jatim

2. 500 KPM PKH Kabupaten Probolinggo Mundur, Tertinggi di Jatim

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Di zaman banyak masyarakat ‘berebut’ bantuan, dua. 500 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH Kabupaten Probolinggo, Jatim, tertinggal dari kepesertaan program alias graduasi.

Nilai itu tercatat selama periode Januari-Juli 2020. Setara dengan 14, 34 persen dari total peserta Kabupaten Probolinggo sebanyak 89. 889 KPM yang tersebar di 24 kecamatan.

PKH-Kabupaten-Probolinggo-5.jpg

Dengan angka tersebut, graduasi di Kabupaten Probolinggo disebut merupakan yang sempurna di antara 38 kabupaten/kota pada Jatim.

Dari data yang diperoleh TIMES Indonesia, graduasi tertinggi ada pada Kecamatan Sumberasih dengan 507 KPM. Disusul Tongas dengan 240 KPM, Sukapura dengan 216 KPM, Krucil dengan 204 KPM, dan Kecamatan Maron dengan 196 KPM.

Koorkab PKH Kabupaten Probolinggo, Fathurrozi Amin mengatakan, graduasi mandiri disertai dengan penjelasan bermaterai dari KPM.

Menurutnya, graduasi tersebut menunjukkan bahwa manfaat program PKH sangat dirasakan oleh peserta kalender. Utamanya dalam membantu menaikkan periode ekonomi.

Banyaknya peserta graduasi, juga merupakan buah dari Pertemuan Peningkatan Kemahiran Keluarga (P2K2) atau Family Development Session (FDS) yang rutin digelar setiap bulan sebelum pandemi Covid 19.

Selama pandemi, P2K2 memang tidak dilakukan untuk mencegah penyebaran. KPM yang mau graduasi, menghubungi pembantu. Selanjutnya, pendamping menindak lanjutinya secara mendatangi rumah KPM dengan pasti memperhatikan protokol kesehatan.

Rozi mengatakan, peserta wajib mengikuti P2K2 di golongan masing-masing. Kegiatan ini dilakukan pada setiap bulan oleh pendamping PKH, & diikuti semua peserta.

Dalam forum ini, peserta diajari cara mengasuh & mendidik anak, merencanakan keuangan & memulai usaha, kesehatan dan gizi, kesejahteraan sosial dan materi pelestarian anak.

“Ini hasil dari P2K2 dengan dilakukan pendamping. Di situ, mindset peserta diubah agar tidak tergantung dengan bantuan, ” kata adam yang biasa disapa Rozi ini.

Banyaknya peserta yang sukarela mundur, sendat Rozi, menandakan bahwa kesadaran berpikir peserta telah berubah. “Mereka tiba malu mendapatkan bantuan. Merasa tersedia yang lebih pantas dan terhormat, ” jelasnya.

Rohani, salah KPM PKH asal Desa Pohsangit Tengah, Wonomerto yang mundur mengaku sangat tangan dengan program PKH.

Tak hanya tumpuan nominalnya, tapi juga banyak kursus yang ia terima selama menjadi peserta program. “Intinya bagaimana menjelma keluarga yang lebih baik, ” katanya.

Secara terpisah, Korwil PKH Jatim I, M. Zainul Arifin mengucapkan, KPM graduasi merupakan indikator keberhasilan PKH. Semakin banyak yang graduasi, program ini berhasil mencapai arah.

“Ini tentu tak lepas dari karakter pendamping, ” kata korwil Jatim I yang juga membawahi PKH Kabupaten Probolinggo ini. (*)